”Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka tampakkan, sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa saja yang ada di dalam hati." (QS Hud : 5).
Sodik Mudjahid
BANYAK jemaah haji yang stres ketika akan berangkat haji, karena soal doa. Terlalu banyak doa yang disampaikan dan harus dihafal. Itulah sebabnya, dalam bimbingan manasik haji, banyak waktu terpakai untuk menghafal doa. Memang, Rasulullah bersabda bahwa doa orang yang sedang melaksanakan ibadah haji, doa para tetamu Allah, tidak ada yang ditolak.
Apalagi doa saat puncak haji ketika wukuf di Arafah. Tidak ada yang ditolak. Akan tetapi, itu bukan berarti harus menghafal doa-doa itu dalam teks aslinya. Kita bisa berdoa dengan bahasa apa saja, termasuk saat tawaf dan sai.
Doa yang sebaiknya dipanjatkan dalam bahasa Alquran hanya lima, yaitu doa niat ihram umrah ”Labbaika Allahumma umratan”, doa ketika niat ihram haji ”Labbaika Allahumma hajjan”, doa ketika istilam Hajar Aswad ”Bismillahi Allahu Akbar”, doa antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad yakni doa Sapu Jagat yang pasti sudah pada hafal yakni ”Rabbana atinaaa fid dunyaa hasanatan wa fil aakhirotin hasanatan wa kinna adzaabannaar”. Doa kelima yang harus dihafal adalah talbiah.
Kalau memori Anda masih sanggup menghafal, silakan ditambah dengan doa ketika sedang naik ke Bukit Shafa dan Marwah. Pendeknya saja, ”Innash shofaa wal marwata, min sya’aa irillaah” (sesungguhnya Shafa dan Manna adalah sebagian syair-syair Allah). Doa yang lain, tidak perlu hafal, karena bisa dibaca atau ikuti saja lafaz pembimbing. Seperti doa melihat Kabah dan doa masuk ke Tanah Suci.
Bagaimana doa ketika sedang tawaf dan sai? Sama saja, boleh doa apa saja. Boleh sambil berzikir: membaca tasbih, tahmid, tahlil, atau membaca ayat Alquran yang kita hafal. Akan tetapi, yang lebih penting dari sekadar menghafal adalah memahami dan menghayati makna dan kandungan doa itu.
Kita tahu, doa terbaik adalah yang ditulis dalam Alquran atau yang dibacakan oleh Rasulullah. Apabila tidak hafal, jangan khawatir! Pelajari maksud dan maknanya, lalu ungkapkan dalam bahasa Anda! Allah mengerti bahasa apa pun yang digunakan manusia ketika berdoa. Ibadah kita akan tenang dan tidak stres karena urusan doa yang tidak kita hafal.
Seluruh tempat di Masjid Nabawi adalah daerah mustajab, terutama di Raudhah. Jemaah laki-laki atau perempuan, usahakan selama musim haji untuk dapat beribadah dan berdoa di Raudhah yang terletak di bagian depan Masjid Nabawi di samping makam Rasulullah saw. Rasulullah bersabda ”Ma baina baiti wa mimbarri, raudotun min riyaadil jannah” (antara rumah dan mimbarku, ada sebuah taman dari surga). Inilah ”primadona” Madinah dan Masjid Nabawi selain makam Rasulullah saw.
Semua tempat di Masjidilharam adalah mustajab terutama di Multazam, Hijir Ismail, Rukun Yamani, Sumur Zamzam, Bukit Shafa dan Marwah. Usahakan Anda berdoa sedekat mungkin di Multazam dan di Hijir Ismail.
Jika perlu berdoalah sambil merapatkan badan ke Kabah, tetapi hanya di Multazam dan Hijir Ismail. Di luar bagian itu, akan dilarang oleh asykar, karena tidak ada contohnya dari Rasulullah saw.
Mabit di Mina, mabit di Muzdalifah dan terutama saat rukun haji wukuf di Arafah adalah tempat dan waktu mustajab. Gunakanlah kesempatan itu untuk berdoa sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Jangan terkecoh dengan berdoa di Jabal Rahmah. Jabal Rahmah bukan tempat istimewa untuk berdoa. Tempat itu dipercaya sebagai tempat bertemunya kembali Siti Hawa dan Nabi Adam setelah mereka jatuh dari surga, tapi bukan tempat yang mustajab untuk berdoa mencari jodoh. Tempat yang mustajab adalah tempat yang disebut di atas.
Jadi, jangan bingung jika belum hafal doa ketika akan berangkat haji. Cukup menghafal lima doa di atas. Faktor penting yang harus disiapkan adalah jiwa dan akhlak takwa sebagai bekal utama haji sesuai dengan firman Allah, ”Fatazawwaduu fainna khoiruz zaadittaqwa”. Siapkanlah bekal haji, dan bekal haji terbaik adalah jiwa takwa.***
Artikel ini telah diterbitkan di HU Pikiran Rakyat 09-04-2019