Oleh Deden Suhendar 

”Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, sesungguhnya me­reka telah memikul ­kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS Al Ahzab:58).
Sering kali jemaah haji maupun umrah begitu terobsesi untuk mencium Hajar Aswad sehingga tidak heran jemaah yang sudah ber­hasil menciumnya begitu bangga dengan keberhasilannya. Hal itu tidak salah. Namun, hal yang perlu diwaspadai jangan sampai terjadi apa yang dilakukan oleh jemaah dalam mencium Hajar As­wad tidak disandarkan pada pemahaman yang benar dan dilaku­kan dengan cara yang tidak benar.
Hajar Aswad menjadi daya tarik yang luar biasa bagi jemaah sehingga area di sekitar Hajar Aswad menjadi kerumunan jemaah yang sangat padat. Mengapa jemaah banyak terkonsentrasi di sekitar Hajar Aswad?
Pertama, sejajar dengan Hajar Aswad terbentang lampu hijau sebagai batas awal dan akhir tawaf sehingga semakin dekat dengan batas ini, jemaah berjalan semakin lambat.
Kedua, sebagian jemaah berusaha keras agar bisa mencium Hajar Aswad karena di­sunahkan seperti yang telah dilakukan ­Rasulullah saw. Ketiga, tidak jauh dari Hajar Aswad terdapat pintu Kabah. Tempat antara pintu Kabah dan Hajar Aswad membentang sampai ke belakang adalah Multazam yang diyakini sebagai tempat mustajabah untuk berdoa. Hal ini menyebabkan jemaah semakin berdesak-desakkan untuk berada di sekitar Hajar Aswad.
Hajar Aswad adalah batu hitam yang tidak dapat dipisahkan dari Kabah. Di dalam buku Tarikh Makkah Al-Mukarramah: Qadiman wa Haditsan disebutkan warna asli batu tersebut adalah putih su­su, sedangkan kulit luarnya berwarna hitam. Batu ini menjadi simbol kesempurnaan pembangunan Kabah. Batu tersebut berada di sudut bagian selatan Kabah dan tinggi tempatnya sekitar 1,1 meter dari halaman Tawaf.
Batu tersebut ditempelkan di dinding Kabah dengan panjang se­kitar 25 cm dan lebar sekitar 17 cm. Rasulullah saw bersabda, "Hajar Aswad turun dari surga. Batu tersebut begitu putih, lebih putih dari pada susu. Dosa manusialah yang membuat batu tersebut men­jadi hitam.” (HR Tirmidzi No. 877).
Al-Fakihi dalam Akhbar Makkah menyatakan, perumpamaan mencium Hajar Aswad seperti seorang laki-laki yang hendak mencium kekasihnya, yaitu ciuman cinta dan penuh kasih sayang. Hu­kum mencium Hajar Aswad sendiri bisa sunah, mubah, atau haram bergantung pada bagaimana pelaksanaannya. Hukumnya sunah jika dilakukan saat memulai atau ketika tiba di sudut Hajar Aswad pa­da saat melaksanakan tawaf. Hukumnya mubah jika dilakukan oleh seseorang yang datang secara tiba-tiba ingin mencium Hajar Aswad bukan dalam rang­kai­an tawaf. Sementara itu, hukum mencium Hajar Aswad bisa haram jika untuk men­cium­nya seseorang harus menyakiti orang lain, misalnya menginjak, menendang, atau menyikut.
Dengan banyaknya jemaah yang ingin men­cium Hajar Aswad, bi­sa dipastikan sa­ngat sulit bisa menyentuh atau menciumnya. Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai seorang Muslim berdesak-desakkan dan menyakiti Muslim yang lain dengan mendorong, menendang, atau menginjak orang lain hanya untuk menyentuh atau mencium Hajar Aswad. Karena hukum mencium Hajar Aswad paling tinggi hukumnya sunah, sedangkan tidak menganggu se­sa­ma Muslim hukumnya wajib.
Jangan sampai kita lebih mendahulukan yang sunah daripada wajib. Jangan mengejar amalan sunah dengan cara yang batil. Jangan sampai maksud hati hendak mengejar pahala, yang terjadi ma­lah mendapatkan dosa. Jika memang tidak memungkinkan mencium Hajar Aswad, cukuplah dengan mengangkat tangan (beristilam) sebagai tanda penghormatan.
Berkaitan dengan hal tersebut, Allah SWT melarang menyakiti se­orang Muslim. ”Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalah­an yang mereka perbuat, sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS Al Ahzab:58).
Dengan demikian, seharusnya kita dapat menempatkan mencium Hajar Aswad itu lebih proporsional dengan mempertimbang­kan antara semangat tinggi dan kemampuan yang ada serta status hukum yang melekat pada perbuatan tersebut. Baik dan buruknya akibat mencium Hajar Aswad sangat bergantung pada pemahaman dan perilaku kita sendiri.
Insya Allah jika berangkat umrah atau haji bersama Qiblat, para pembimbing sudah punya jurus-jurus atau kiat agar amalan mencium Hajar Aswad tidak menyakiti jemaah lainnya.
Semoga pemahaman yang benar dalam mencium Hajar Aswad mampu membuat hati jemaah menjadi lebih putih tercerahkan. Sebaliknya, sungguh celaka jika gara-gara mencium Hajar Aswad justru hati jemaah menjadi ”hitam” karena salah memaknai dan me­laksanakannya. Na’udzubillah min dzalik.***

Artikel ini telah diterbitkan di HU Pikiran Rakyat 10-05-2016