Takwa, Bekal untuk Haji
Haji adalah Rukun Islam pamungkas, terakhir. Haji adalah ibadah lahir dan batin, fisik dan mental, jiwa dan raga, morel dan meteriel.
Lokasi ibadah juga tidak bisa di sembarang tempat. Ibadah haji, hanya bisa dilaksanakan di Mekah, Mina, Arafah, Muzdalifah, dan di tempat mikat. Bagus jika sambil ziarah di Madinah berkunjung ke makam Rasulullah saw. Suhu di daerah tersebut bisa 5 derajat bisa juga 50 derajat, tergantung musimnya. Demikian juga dengan waktu pelaksanaannya, yang hanya satu kali yakni tanggal 8 Zulhijah sampai dengan 13 Zulhijah.
Pesertanya jutaan orang. Namun, ritual ibadahnya menuntut dilakukan secara bersama. Melakukan mikat, salat, tawaf, sai, dan tahalul dilakukan secara bersama. Demikian juga dengan mabit, wukuf, dan jumrah. Kegiatannya lain adalah pergerakan bersama ke tempat-tempat tersebut yang sering menyebabkan kemacetan. Begitulah ibadah haji.
Ibadah haji sangat padat acara, bahkan menyita waktu sehingga bisa sampai 40 hari tinggal di negeri orang, yakni di Mekah dan Madinah sambil menunggu kepulangan. Untuk kegiatan ibadah istimewa yang sangat dinamis tersebut, Allah mengingatkan, ”Fa tazawwaduu fainna khoiruz zaadit taqwa”, siapkanlah perbekalan dan bekal terbaik haji adalah takwa, Inilah bekal utama dan bekal terbaik haji.
Dengan jiwa takwa, ibadah haji akan terasa mudah, menyenangkan, nikmat walau lelah, macet, berjejal, berdesak-desakan, harus menunggu, harus mengantre. Dengan berbekal takwa, haji akan mencapai kelas utamanya yakni haji mabrur. Oleh karena itu, jiwa dan mental takwa ini yang harus kita siapkan dan mantapkan sebelum berangkat haji.
Program manasik haji itu harus menyiapkan jiwa dan mental takwa, bukan hanya sebatas mengajarkan tata cara haji dan doa seperti selama ini dilakukan. Persoalannya, mengapa jiwa dan mental takwa sebagai bekal haji? Inilah beberapa petunjuk Alquran yang sangat terbukti kebenaran dan manfaatnya selama penulis menjadi pembimbing haji.
Pertama, ikhlas. Perintah ikhlas untuk amalan haji dua kali lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan perintah ikhlas untuk ibadah lain. Dengan ikhlas haji akan sabar menghadapi aneka ragam godaan dan masalah selama perjalanan ibadah haji. Dengan ikhlas karena Allah, haji akan bermakna dan bernilai di mata Allah swt.
Kedua, sabar, yakni tabah menjalani rute dan acara ibadah serta peristiwa dan masalah selama perjalanan haji. Allah bersama orang sabar. Jika sabar, Allah akan memberi kemudahan dan pertolongan di luar dugaan, bahkan di luar akal pikiran. Bagi para petugas, jangan salah memanfaatkan anjuran sabar ini.
Kewajiban bagi petugas melayani sepuluh masalah pelayanan, tetapi hanya mampu memberi enam pelayanan, lalu memanfaatkan dalil tersebut disampaikan kepada jamaah untuk bersabar. Itu salah menggunakan dalil namanya. Sabar adalah ketika sudah memberi sepuluh, tetapi masih ada masalah dadakan yang muncul. Sabar juga bermakna menahan amarah, emosi, dan mampu memaafkan kesalahan orang lain, baik dengan sesama jemaah ataupun petugas. Banyak tantangan yang dapat memancing amarah selama perjalanan ibadah haji, yang jika semua jemaah marah-marah, suasana ibadah haji akan menjadi tidak nyaman. Kesabaran sebagai salah satu sifat takwa sangat diperlukan.
Ketiga, peduli sesama jemaah. Ada hadis Nabi "Allah dalam posisi menolong hambanya selama dia menolong saudaranya yang lain". Ini sangat terasa selama perjalanan haji. Perbanyaklah membantu orang lain, Allah akan banyak membantu kita. Jika tidak peduli dan tidak banyak menolong sesama jemaah, maka Allah melalui jemaah dan petugas tidak akan banyak menolong kita.
Keempat, cepat sadar dan istigfar jika terlanjur melakukan dosa dan kesalahan. Selama haji bisa jadi kita banyak melakukan kesalahan. Salah ucap, salah niat, salah tindakan yang dilakukan baik karena marah, karena lupa atau karena takabur. Jika berbuat salah, segera menyadari dan istigfar sebelum nanti akan mendatangkan masalah.
Kelima, selalu zikir dan taqarrub kepada Allah swt, tingkatkan kekhusyukan salat. Perbanyak zikir tasbih, tahlil, takbir, dan tahmid. Perbanyak pula membaca Alquran dan doa-doa. Firman Allah swt: ”Fadzkurunii adzkurkum” (ingatlah Aku, maka Aku akan ingat kepadamu). Diingat Allah dalam perjalanan haji sangat berarti dan memberi kemudahan.
Siapkanlah perbekalan utama haji yakni jiwa dan mental takwa agar perjalanan ibadah haji kita nikmat dan mabrur. ***
Penulis, pembimbing utama Qiblat Tour dan Ketua Yayasan Darul Hikam.
Sodik Mudjahid
Artikel ini telah diterbitkan di HU Pikiran Rakyat 26-03-2019
