Bermuhasabah di Tanah Suci

Kurang dari dua bulan lagi kita akan mengalami pergantian tahun, dari tahun 2018 ke tahun baru 2019. Menurut M Quraish Shihab, waktu adalah seluruh rangkaian yang telah berlalu, yang sedang berlangsung, dan yang akan datang. Dengan demikian, pergantian waktu adalah pergantian proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung, dan waktu yang telah berganti, walau terjadinya baru sepersekian detik, menjadi masa lalu dan waktu yang belum terjadi walau sepersekian detik dari sekarang adalah masa depan. 
Terkait dengan waktu, umat Islam harus terus mengingat firman Allah dalam Alquran surat Al-Ashr, bahwa manusia sebenarnya berada dalam kerugian, kecuali orang yang melakukan amal saleh. Oleh karena itu, umat Islam sebaiknya memanfaatkan setiap waktu ­dengan sebaik-baiknya, termasuk pada momen pergantian tahun baru harus diisi dengan beragam amalan yang baik.
Berbicara waktu, menarik apa yang disampaikan oleh Malik Bennabi dalam bukunya Syurutu al-Nahdhah. Ia mengatakan, ”Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali dia berseru. ’Putra-putri Adam, aku waktu, aku ciptaan baru, yang menjadi saksi usahamu. Gunakan aku karena aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat.’ Kemudian, ia melanjutkan, ’Waktu adalah sungai yang ­mengalir ke seluruh penjuru sejak dahulu kala, melintasi pulau, kota, dan desa, membangkitkan se­mangat atau meninabobokan manusia. Ia diam seribu bahasa, sampai-sampai manusia sering tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya, walaupun segala sesuatu —selain Tuhan— tidak akan mampu melepaskan diri darinya’.”
Jadi, jangan sepelekan waktu, apalagi dengan melakukan hal-hal yang kita tidak mengerti apa alasan dan manfaat melakukan sesuatu. Berhati-hatilah, waktu adalah penentu. Dan kelak setiap perbuatan pasti akan dimintai pertanggungjawabannya. 
Hal itu sebagaimana pendapat Imam Syafii, bahwa waktu laksana pedang. Jika kamu tidak menebasnya maka waktu yang akan menebasmu. Jika kamu tidak menyibukkan diri (memanfatkan waktu) dengan kebaikan, maka waktu akan menyibukkanmu ­dengan kebatilan. 
Dalam menyikapi waktu dan pergantiannya, Islam telah memberikan pedoman bagi penganutnya, yaitu pertama, jangan mencela waktu atau masa. Rasulullah saw bersabda: ”Janganlah kamu mencela masa karena Allah berfirman, Aku adalah masa, malam dan siang adalah milik-Ku, Aku menjadikannya baru dan berlalu, dan Aku mengganti para raja dengan para raja yang baru.” (Hadis Riwayat Ahmad).
Terkait dengan hadis qudsi di atas, Imam Asy-Syafii, Abu Ubaidah dan yang lainnya menjelaskan asbabul wurud-nya bahwa pada masa Arab jahiliyah, ketika bangsa Arab ditimpa bencana, mereka kerap menganggap bahwa ”waktu” atau ”masa” lah  yang melakukan semua itu. Oleh karena itu, mereka pun mencela masa. Padahal semua itu atas kehendak Allah (Azza wa Jalla). Dengan berprasangka seperti itu, seakan-akan mereka mencela Allah karena menganggap Allah yang melakukan semuanya. Karena itulah perbuatan mencela dilarang. 
Dalam menyikapi pergantian tahun kaum Muslimin dilarang untuk mencela tahun yang telah berlalu, karena alasan ia merasa bahwa tahun lalu penuh keburukan baginya. Semestinya, semua keburukan kepada diri kita ma­sing-masing ialah akibat kita yang telah banyak berbuat buruk, melakukan banyak kesalahan sehingga mendatangkan kesialan. 
Kedua, jadikan pergantian waktu untuk bermuhasabah, mengevaluasi atau mengintrospeksi diri, untuk kesiapan diri menghadapi masa depan, sebagaimana firman Allah swt di dalam surat Al-Hasyr ayat 17 yang artinya ”Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”***

Tata Sukayat

Artikel ini telah diterbitkan di HU Pikiran Rakyat 13-11-2018