Pesan di Balik Hudaibiyah

Dialah Allah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka.
(QS Al Fath : 4)


SAAT Mekah dikuasai oleh kaum musyrik pada tahun ke-6­ Hi­­j­riah atau 628 Masehi,  Nabi Muhammad  Saw bermaksud melaksanakan ibadah haji. Rombongan kaum Muslimin sekira 1.400 orang yang di­pimpin langsung oleh Rasul yang mulia Nabi Muhammad saw,  berhenti di Hudaibiyah untuk memulai ihram. Walau Nabi menegaskan kedatangannya hanya untuk berhaji, ­penguasa Mekah gundah gulana, ada apa orang yang pernah diusir dari Mekah kini datang dengan segala kebesarannya.  Mereka memandang kedatangan Muhammad dengan kaumnya bukan sekadar untuk menunaikan ibadah haji, tetapi dibenak mereka tersimpan prasangka adanya kepentingan politik.
Memperhatikan  sikap bermusuhan yang ditunjukkan oleh penduduk dan penguasa Mekah saat itu, Nabi segera mengadakan baiat. Para sahabat berjanji setia untuk membela Nabi. Hal ini merupakan komitmen politik yang sa­ngat penting. Janji setia ini dikenal ­sebagai Bai’atur Ridhwan. Ketegangan antara kaum Muslimin dan kaum musyrikin berakhir ketika Suhail bin Amru dengan Rasulullah Nabi Muhammad saw menyepakati perjanjian Hudaibiyah.
Perjanjian Hudaibiyah meliputi; pertama, kedua belah pihak sepakat akan melakukan gencatan senjata selama 10 tahun. Kedua, masyarakat Arab bebas bersekutu dengan pihak Quraisy atau Muhammad. Ketiga, warga Mekah yang menyeberang ke Madinah tanpa izin walinya harus dikembalikan ke Mekah. Jika warga Madinah yang menyeberang ke Mekah tidak boleh dikembalikan ke Madinah. Keempat, tahun ini Muhammad saw dan pe­ngi­kutnya akan kembali ke Madinah, namun tahun depan mereka da­pat masuk ke Mekah setahun setelah perjanjian itu, dan akan dipersilakan tinggal selama tiga hari, dengan syarat hanya membawa pedang dalam sarungnya. Dalam masa tiga hari itu kaum Quraisy akan menyingkir keluar dari Mekah.
Tahun ke-7 Hijriyah,  Nabi Muhammad Saw datang dengan kaum Mus­limin untuk melaksanakan umrah. Penduduk Mekah menyingkir ke bukit-­bukit sambil mengintip apa yang akan dilaksanakan umat Islam.  Setelah perjalanan jauh dari Madinah ke Mekah,  tentu para sahabat dan kaum Muslimin dalam keadaan lelah. Namun Nabi yang mulia, menyuruh para sahabatnya me­lakukan tawaf sambil berlari. Ketika ­melakukan sai disuruh berlari juga. Nabi ­ingin menunjukkan kekuatan umat Islam.
Perjanjian Hudaibiyah ternyata di­khianati oleh Quraisy, tetapi kaum Muslimin dapat membalasnya dengan menaklukkan Mekah yang masyhur dengn periode Fathul Makkah, pada tahun 630 M, tanpa perlawanan yang berarti. 
Kaum Muslimin berpasukan sekira 10.000 tentara. Di Mekah, mereka hanya menemui sedikit rintangan. Setelah itu, mereka meruntuhkan segala simbol keberhalaan di depan Kabah.
Kemenangan kaum Muslimin dilukiskan Allah swt di dalam Alquran Surah An-Nashr, ayat 1-3. “Apabila telah datang pertolongan ­Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk Agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Robbmu,  dan mohonlah am­pu­nan kepada-Nya. Sungguh, Dialah Allah Maha Penerima Taubat.”
Inilah kemenangan  nyata yang Allah anugerahkan kepada kaum Muslimin dengan qudrat dan irodat-nya. Perjanjian Hudaibiyah menorehkan kepia­waian politik Nabi Muhammad saw, ­s­epan­dai-pandainya siasat dalam melaksanakan diplomasi dengan kaum musyrikin, kafirin,  dan munafikin.
Pesan nilai di balik situs sejarah Hudaibiyah adalah, kehebatan diplomasi menghantarkan kepada kemenangan. Inilah nashoha kesetiaan. 
Ketaatan kepada pemimpin merupakan perwujudan sami’na wa atho’na dalam  kesolehan perjuangan. Menunjukkan ke­berani­­an adalah show of force dalam syiar Islam. Kebersamaan melawan musuh menjadi bukti riil ­realisasi wata’aawanuu ‘alalbirri wat­­taqwa, ber­satu memadu dalam kebajikan dan takwa.***

Nandang Koswara

Artikel ini telah diterbitkan di HU Pikiran Rakyat 18-12-2018