Sinergi dan Kebersamaan dalam Ibadah Haji

Ibadah haji merupakan salah satu ibadah yang mengajarkan bagaimana seorang Muslim melakukan ibadah secara sinergis dengan semangat kebersamaan. Dengan kata lain, sama-sama bekerja, dan bekerja sama antarjemaah. Ibadah haji adalah kegiatan yang selalu dilakukan dalam suasana kebersamaan yang dapat membangun ikatan emosional dan spiritual. 
Hampir dapat dipastikan tidak ada kegiatan ibadah haji yang dapat dilakukan dalam kesendirian, semuanya dilakukan secara terbuka dan bersama-sama. Alquran secara jelas dan tegas memberikan larangan dalam ibadah haji antara lain: berbicara kotor, berbuat dosa, dan berdebat, sebagaimana firman-Nya:
”(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (berkata jorok), berbuat fasik dan berbantah-bantah­an di dalam masa mengerjakan haji.” (QS Al-Baqarah: 197).
Larangan rafats, perbuatan fasik dan jidal (perdebatan) adalah ajaran akhlak. Hal tersebut ditujukan agar pelaksanaan ibadah haji menjadi khidmat dan  kondusif. Perkataan kotor akan mengeruhkan suasana ruhani. Perbuatan fasik mengeliminasi nilai ibadah. Dan berdebat, akan merusak interaksi antarjemaah.
Sinergi dan kebersamaan dalam haji ini terus Allah ajarkan bahkan setelah tahalul menyembelih hewan kurban. Allah memerintahkan da­ging hewan tersebut untuk dibagikan ke semua orang kaya ataupun miskin. Allah berfirman:
”Kemudian apabila dia (hewan kurban itu) telah roboh (telah disembelih), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, Mudah-mudahan kamu bersyukur.” (QS al-Hajj: 36).
Ayat tersebut memerintahkan orang yang berkurban agar selain mengkonsumsi hewan kurban, juga memberikan daging kurban itu untuk orang yang berkecukupan (al-qani’) sebagai hadiah juga kepada yang membutuhkan (al-mu’tarr) sebagai sedekah. Allah menginginkan dalam ibadah haji agar semua orang bergembira dan menikmati ibadah yang dilakukan. Allah tidak meng­inginkan umat Islam egois dalam apa pun termasuk dalam prosesi ibadah.
Kendati demikian, sebagian jemaah haji tidak memahami spirit yang ditanamkan Alquran tersebut. Meskipun Alquran mengajarkan tentang sinergi dan kebersamaan, sebagian jemaah haji justru mempraktikkan individualisme dan egoisme dalam ibadah haji. Banyak jemaah haji yang dalam tawaf misalnya bukannya bergerak secara tertib bersama seluruh jemaah haji, justru menabrak ke sana kemari dan mengganggu jemaah lain. Dalam melempar jumrah juga sering terjadi kesa­lahan yang sama bahkan sering membawa korban karena kesalahan tersebut. Ibadah melempar jumrah selalu menjadi kacau karena banyak jamaah haji berpikir egois dan tidak bisa bersikap tertib.  Jika semua jemaah haji punya semangat sinergi dan  kebersamaan dan terbiasa pada ketertiban tidak perlu bersikut-sikut­an apalagi bertabrakan. 
Khusus dalam melempar jumrah banyak kesalahan yang berakibat fatal akibat kesalahpahaman. Misalnya, ada pemahaman bahwa jumrah adalah setan sungguhan yang harus dilempari benda-benda menyakitkan. Oleh karena itu, banyak sekali jemaah haji yang melakukan lempar jumrah dengan penuh emosi. Padahal jumrah hanyalah simbol bukan setan sungguhan. Melempar jumrah juga tidak perlu keras ke arah tugu tersebut karena lemparan cukup sah jika kerikil dapat masuk ke dalam lingkaran jumrah walaupun tidak mengenai tugu tersebut.
Salah satu makna dalam ibadah haji seorang Muslim seharusnya semakin mengerti bagaimana gerakan yang teratur. Seorang Muslim dalam momen international ini seharusnya semakin mengerti bahwa setiap individu adalah bagian integral dari sebuah komunitas besar. Seorang Muslim selayaknya terikat dan tersistem dalam sistem sosial, sistem manajemen dan sistem politik yang rapi sebagaimana haji adalah sistem ibadah yang secara sinergi dapat memperlihatkan kenyataan tersebut.
Jika umat Islam mampu memperbaiki sistem ibadahnya di masa haji, hampir dipastikan seluruh masalah keumatan dapat ditemukan solusinya secara tepat. ***

Aden Rosadi
Artikel ini telah diterbitkan di HU Pikiran Rakyat 

28-08-2018