Bekal Haji Terbaik
"Tawakal, berserah diri kepada Allah setelah berusaha seoptimal mungkin, telah menjadi kebutuhan fundamental bagi jemaah haji. Semakin terlatih dirinya merapat kepada Allah, semakin kuat daya tahan dan daya kendali dalam jiwanya".
GELOMBANG cinta untuk memenuhi panggilan ibadah haji kian menaik. Keyakinan yang tumbuh dalam hati setiap hamba untuk memenuhi panggilan Allah SWT semakin kuat. Hal ini terbukti dengan semakin meningkatnya jemaah haji Indonesia dari masa ke masa yang terus melejit.
Seiring dengan tingkat keyakinan untuk menunaikan ibadah haji semakin meningkat, dipandang penting jemaah dibekali pencerahan. Apa sebenarnya bekal untuk menunaikan ibadah umrah dan haji? Apakah ”fulus” yang banyak?
Ibadah haji merupakan perjalanan rohaniah. Bekal utama adalah ikhlas, sabar, dan tawakal yang akan mewarnai sikap perilaku dalam memenuhi panggilan Allah. Ketiganya merupakan syariah (jalan) menuju hakikat (tujuan) menggapai keridaan Allah.
Jarang kita dapatkan pembekalan kepada jemaah haji dalam manasik. Haji itu capek tetapi nikmat. Apa sebenarnya yang membuat nikmat itu? Ketulusan semata-mata mengharap keridaan Allah sehingga capek yang luar biasa, tetapi sungguh dapat mengantarkan kepada kebahagiaan.
Kadang terjadi pembiaran kepada jemaah haji di Tanah Suci yaitu dilepas begitu saja. Padahal, tidak sedikit di antara mereka masih awam dengan manasik haji. Alquran menandaskan, ”Berbekallah kalian, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (Q.S. 2 ayat 197)
Indikatornya adalah ikhlas, sabar, dan tawakal. ”Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Q.S. 6 ayat 162).
Pertama, ikhlas. ”Katakanlah, sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.” (Q.S. 39 ayat 11).
Imam Al Ghazali memandang ikhlas merupakan refleksi dan manifestasi pertama dari al mahabbah (cinta). Ikhlas itu buah dari mahabbah. Tumbuhnya rasa cinta yang mendalam kepada Allah, terbitlah ikhlas. Bekal pertama dan utama dalam menunaikan ibadah haji adalah ikhlas sehingga bisa melaksanakan seluruh aktivitas semata-mata mengharap keridaan Allah.
Menunaikan ibadah haji bukan hanya zikir dan doa, tetapi di dalamnya terdapat riyadah (pelatihan) spektakuler menuju tujuan hakiki Allah. Haji akan melatih setiap hamba untuk ikhlas dalam berbagai hal. Semangat berkarya untuk menuai manfaat bagi umat telah menjadi target dalam ibadahnya.
Sikap ikhlas ini pun akan melahirkan kepeduliaan sosial, kesalehan sosial, sekaligus akan membangun tatanan peradaban umat manusia menuju kemandirian hakiki. ”Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.” (Q.S. 76 ayat 8-10).
Kedua, bekal sabar. Ibnu Qayyim Al jauziyah mengatakan, sabar adalah menahan perasaan dari gelisah, putus asa, dan amarah, menahan lidah dari mengeluh, menahan anggota tubuh dari mengganggu orang lain. Imam Al Ghazali menegaskan sabar pada sisi keberpihakan terhadap nilai-nilai agama dan mengesampingkan hawa nafsu.
Jemaah haji dilatih untuk berada dalam kafilah yang dapat mengantarkan kepada kebahagiaan melalui penetapan nilai akhlak dalam kehidupan. Haji harus berbekal sabar. Karakter sabar dapat meraih keunggulan amaliyah. Momentum ibadah haji itulah saatnya yang tepat meraih dimensi kesabaran.
Ketiga, tawakal yakni sikap yang dipilih setelah seseorang melakukan usaha maksimal. ”Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Q.S. 65:3).
”Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS.3:159).
”Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhan-lah mereka bertawakal.” (Q.S. 8 ayat 2).
Tawakal, berserah diri kepada Allah setelah berusaha seoptimal mungkin, telah menjadi kebutuhan fundamental bagi jemaah haji. Semakin terlatih dirinya merapat kepada Allah, semakin kuat daya tahan dan daya kendali dalam jiwanya.
Walhasil, ikhlas, sabar, dan tawakal adalah bekal utama dalam menunaikan ibadah haji. Ketiga indikator takwa itulah menjadi syariat untuk tercapainya hakikat haji. Wallaahu a'lam. ***
Penulis, pembimbing Haji Plus dan Umrah Qiblat Tour dan KBIH Darul Hikam serta ketua Syarikat Islam Jabar.
Nandang Koswara
Artikel ini telah diterbitkan di HU Pikiran Rakyat 13-09-2011