Bekal Perjalanan Haji

Melaksanakan ibadah haji adalah dambaan se­tiap Muslim yang tentu­nya menginginkan ibadah haji dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Hal ini sangat logis karena ibadah haji tidak bisa dilaksanakan setiap waktu. Kesempatan yang mungkin ha­nya Allah swt berikan sekali seumur hidup terlebih lagi melihat kondisi sekarang de­ngan daftar tunggu cukup lama. 
Oleh karena itu, setiap Muslim harus berusaha semaksimal mung­kin agar keberangkatan ibadah haji ini tidak sia-sia. Untuk itu setiap jemaah calon haji diharapkan bisa mempersiapkan perbekalan guna meraih kemuliaan di hadapan Allah melalui pelaksanaan ibadah yang sahih (baik) yang bukan hanya ditinjau dari segi syariat bahwa ibadah itu sah, tapi ibadah itu betul-betul diterima Allah swt. Dampaknya akan melahirkan kemabruran, yang pada gilirannya akan membawa dampak positif dalam kehidupan pascahaji yaitu dengan terlembaganya nilai-nilai kebaikan yang membawa manfaat untuk dirinya dan orang lain dalam menggapai hidup bahagia dunia akhirat.
Untuk meraih haji mabrur tentu­nya setiap jemaah calon haji harus menyiapkan bekal yang cukup agar semenjak keberangkatan sampai kepulangan mendapatkan kelancaran. Dari sekian banyak bekal yang harus disiapkan paling pen­ting adalah bekal takwa. Allah swt mengingatkan, “Musim haji adalah beberapa bulan yang dimafhumi, barang siapa yang telah menetapkan niatnya di bulan itu untuk berhaji, maka tidak boleh rofast, fusuk, dan jidal dalam haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya,. Berbekallah kamu dan sebaik-baiknya bekal adalah takwa, dan bertakwa­lah ke­pada-Ku hai orang-orang yang ber­akal (QS Al-Baqarah: 197)”.
Maksud bekal takwa, menurut Syeikh Imam Al-Qurtubiy dalam tafsirnya Jami Li Ahkami Al-Quran adalah mengikuti apa yang diperintahkan kepada kalian yaitu berangkat untuk menunaikan ibadah haji dengan membawa bekal yang paling baik agar terhindar dari rusaknya ibadah, kemadaratan dan dari meminta-minta atau mengemis. Bila kita jabarkan dari pendapat Al-Qurtubi tadi, menurut penulis ada tiga kategori perbekalan yang harus disiapkan oleh calon jemaah haji. 
Pertama, perbekalan yang menunjang terhadap kelancaran iba­dah, baik menyangkut disiplin ilmu tauhid (keyakinan), fikih (tata cara ibadah) atau akhlak (etika). Dari sisi ini sekurang-kurangnya jemaah haji harus berbekal pemahaman dari sisi tauhid (keyakinan) bahwa ibadah ini dilaksana­kan betul-betul karena ­Allah, tidak tercampuri dengan niat­an-niatan lain, seperti lebih menge­depankan aspek duniawi, prestise, dan lain-lain. Muatan sisi tauhid ini termasuk di dalamnya adalah niat yang lurus, sabar, dan ikhlash. 
Sememtara pemahaman dari sisi disiplin ilmu fikih (tata cara ibadah) sehingga ibadah ini secara teknis bisa dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Muatan dari sisi fikih ini mengetahui rukun, syarat, wajib, amaliah sunah, dan hal yang membatalkan/merusak terhadap ihram haji itu sendiri. Tak kalah pentingnya pemahaman terhadap makna-makna filosofis dari rangkaian ibadah yang dilaksana­kan. Hal ini penting karena akan membangkitkan semangat dan kesungguhan serta penghayatan (khusyuk) dalam ibadah. Misalnya, berihram artinya kita siap meninggalkan apa yang diharamkan Allah. Tawaf berarti kita siap hidup ada pada garis yang telah ditetapkan Allah dan hidup merasa dekat dengan-Nya. Terakhir adalah pemahaman akan makna situs-situs Sejarah yang ditinggalkan Nabi Saw untuk meng­ambil itibar (pelajaran) guna me­ning­katkan keyakinan kita kepada Allah, kepada Rasulullah dan kepada Islam.
Kedua, Bekal penguasaan teknis perjalanan dari sejak keberangkatan sampai kepulangan. Pembekalan dari sisi ini tentunya menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah dan pihak-pihak terkait seperti KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) untuk memberikan pemahaman kepada jemaah calon haji dengan jelas, sehingga mereka ketika berangkat sudah punya bekal pengetahuan tentang persiapan berangkat, keadaan di asrama haji, di pesawat, di bandara keberangkatan dan kedatangan, di maktab Madinah/­Mekkah, gambaran di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Termasuk dari sisi ini adalah bekal tentang jaminan keamanan selama perja­lan­an ter­utama berkait dengan dokumen perjalanan seperti paspor, bu­ku kesehatan, dan gelang identitas.
Ketiga, bekal yang harus disiapkan adalah yang berkait dengan kebutuhan jasmani. Ini sangat logis karena ibadah haji memerlukan kondisi fisik yang sehat dan kuat yang bisa ditunjang dengan makanan minuman termasuk pakai­an sebagai pelindung tubuh yang memadai. Semua itu tentunya bisa dijangkau dengan keadaan finansial yang cukup.***

Pimpinan Pontren Al-Adzkar dan Pembimbing Haji dan Umrah ­Qiblat Tour

Engkus Suhendar

Artikel ini telah diterbitkan di HU Pikiran Rakyat 02-08-2016