”Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahamengenal.” (QS 31: 34).
Ayat ini setidaknya menyadarkan manusia, Allah adalah satu-satunya Zat Yang Menggenggam segala rahasia. Manusia boleh berencana secara sempurna tetapi Allah Zat Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Bisa dimungkinkan seluruh negara termasuk Indonesia telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk kelancaran dan kesempurnaan perjalanan ibadah haji, tetapi hanya Allah yang memiliki kepastian tentang penyelenggaraan ibadah haji tahun 1441 ini.
Secara teknis, baik negara pengirim jemaah haji maupun pemerintah Arab Saudi sebagai penyelenggara, tampaknya tidak sulit untuk mempersiapkan segala sesuatunya sekalipun dalam waktu yang sangat sempit. Namun, perlu diingat, Allah menurunkan syariat, yaitu Lisholahil ‘ibad dunyahum wa ukhrahum, untuk kemaslahatan penganutnya, baik di dunia maupun di akhirat. Aturan dalam syariat tidaklah dibuat untuk syariah itu sendiri, melainkan dibuat untuk tujuan kemaslahatan penganutnya.
Imam As-Syatibi menurunkan lima unsur pokok yang harus senantiasa dijaga sekaligus dimuliakan untuk menjamin kemaslahatan tersebut, yaitu agama, jiwa, akal, kekayaan, dan keturunan.
Apa pun kebijakan pemerintah Arab Saudi terkait dengan penyelenggaraan ibadah haji tahun ini, baik dalam bentuk pembatasan atau pembatalan sekalipun, dipastikan salah satu yang menjadi pertimbangnnya adalah kemaslahatan umat. Bagi orang mukmin dan lebih khusus bagi calon jemaah haji yang sudah direncanakan berangkat tahun ini, harus yakin, wabah Covid-19 adalah musibah yang merupakan ujian dari Allah dan pasti Allah memberikannya pun atas dasar sifat Rahman dan Rahim-Nya.
Sikap ini, insyaallah menjadi bukti jihad sekaligus modal besar para jemaah untuk bisa bersabar, bertawakal, dan selalu berprasangka baik kepada Allah yang mengantarkannya kepada ampunan, rahmat, dan petunjuk Allah (QS 2: 155-157), sekalipun keberangkatannya ke Tanah Suci tertunda di tahun ini.
Niat sebagai tempat pemberangkatan amal, tampaknya memiliki nilai yang sangat tinggi dalam pandangan Allah, selain tentu saja kesempurnaan amal. Imam Abu Dawud yang menuliskan kurang lebih 500.000 hadis dari Rasulullah, dalam pandangannya, hadis yang paling utama itu adalah hadis tentang niat. Berniat baik, jangan pernah sekali-kali dicabut atau dicederai dengan berprasangka buruk kepada Allah, menggerutu, mengikis keikhlasan, apalagi sampai tidak menerima ketetapan Allah. ”Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS 2: 216).
Rasulullah saw pernah bersabda, ”Barang siapa yang memohon kepada Allah secara sungguh-sungguh agar menjadi orang yang syahid, maka Allah akan menyampaikannya kepada derajat para syuhada (mati syahid), walaupun dia mati di atas kasurnya” (HR Muslim).
Di lain kesempatan, Rasulullah juga bersabda, ”Seorang hamba jika ia berada pada jalan yang baik dalam ibadah, kemudian ia sakit, maka dikatakan pada malaikat yang bertugas mencatat amalan, ’Tulislah padanya semisal yang ia amalkan rutin jika ia tidak terikat sampai Aku melepasnya atau sampai Aku mencabut nyawanya’.” (HR Ahmad).***
Dikdik Dahlan Lukman
Pembimbing Haji Khusus
dan Umrah Qiblat Tour
Artikel ini telah diterbitkan di HU Pikiran Rakyat 02-06-2020