”Walimatussafar”

Oleh H. D. Sodik Mudjahid


JEMAAH calon haji (calhaj) Indonesia, dalam hitungan hari akan diberangkatkan ke Tanah Suci. Kelompok terbang (kloter) 01 dijadwalkan berangkat Kamis  (22/10) ini, lalu disusul kloter-kloter berikutnya.
Tentu calhaj sudah mempersiapkan bekal fisik, psikis. Demikian pula, ilmu manasik haji sudah dikuasainya, sehingga tinggal menunggu hari ”H” pemberangkatan. Namun, tidak salah, apabila kita membahas kembali persiapan sebelum berangkat. Tentu persiapan dimulai dari memantapkan niat haji, sehingga tetap lurus dan karena Allah SWT.  Dalam Alquran ditegaskan ayat mengenai haji dan umrah, diawali dengan ”hanya karena Allah”.
Ibadah haji bukan untuk pamer kepada tetangga, bukan pula mencari gengsi agar disebut pak atau bu haji. Bukan pula gengsi akibat bawahan atau tetangga yang kita anggap ”kurang kemampuannya” ternya­ta sudah berhaji.
Niat haji juga bukan untuk mencari oleh-oleh khas Tanah Suci, karena barang-barang tersebut mudah didapatkan di Tanah Air. Apalagi pihak penerbangan membatasi berat bawaan jemaah haji, yakni maksimal 35 kg untuk koper besar dan 7 kg untuk tas tentengan.
Niatkan haji hanya karena Allah. Tentu bekal yang terbaik adalah takwa, seperti ditegaskan dalam Alquran.  Meminta maaf kepada karib, sahabat, keluarga, rekan kerja, tetangga, dan lain-lain, sambil meminta dukungan doa merupakan salah satu bentuk bekal tersebut.
Salah satu ajang untuk berpamitan, memohon maaf sekaligus memantapkan persiapan adalah dengan walimatussafar atau syukuran haji. Entah siapa yang pertama kali menamai ritual ini dengan walimatussafar, apalagi dari segi bahasa, artinya agak aneh. Walimah itu artinya pesta dan safar  bermakna perjalanan.  Bahkan, sebagian menyebut hal terbalik, karena biasanya orang yang akan pergi mendatangi warga atau tetangga lalu berpamitan, tapi ini malah mengundang mereka untuk datang ke rumahnya.
Apabila kita merujuk kepada Alquran ataupun hadis pun, tidak ditemukan adanya dalil yang  secara langsung menyunahkan calhaj untuk melakukan wali­matussafar. Namun, praktik seperti itu, memiliki hal-hal baik apalagi lebih dimotivasi karena ingin melakukan perpisahan, sambil melakukan penyampaian wasiat/nasihat. Sebab, melakukan perpisahan dan berwasiat menjelang safar (perjalanan), memang bagian dari hal yang dianjurkan.
Wasiat yang bisa disampaikan calhaj, di antaranya, memohon maaf atas kesalahan dan dosa selama ini yang telah dilakukan. Bisa juga memohon agar keluarganya dijaga selama calhaj  berada di Tanah Suci, maupun wasiat apabila terjadi sesuatu yang menimpa, misalnya meninggal dunia, maka perlu diwasiatkan sebelumnya.
Ibadah haji merupakan ladang jihad yang komplet, baik harta, tenaga, waktu, bahkan nyawa sekalipun. Calhaj harus pasrah dan tawakal atas semua ketentuan Allah terhadap dirinya. Tentu keputusan Allah merupakan hal terbaik baginya.
Salah satu nasihat yang kerap muncul dalam walimatussafar adalah calhaj harus berbekal dengan takwa, seperti bersabar  selama di Tanah Suci. Nasihat ini patut diperhatikan dan direnungkan. Karena dalam Alquran, kita juga  disuruh untuk bersabar selama menunaikan ibadah haji. Selama berihram misalnya, jemaah haji bukan saja disuruh untuk tidak marah, bahkan dilarang untuk  membunuh serangga dan merusak tanaman.
Jemaah haji harus  membiasakan melihat setiap masalah dari segi  positifnya, berpikir positif, atau husnuzzan (berprasangka baik), di samping sikap ikhlas dan rida menerima segala yang didapatkan selama menunaikan ibadah haji. Hanya, calhaj juga perlu menghindarkan diri dari sikap riya atau pamer ketika melaksanakan walimatussafar. Hal ini merupakan awal godaan dan hambatan sebagai bekal untuk menghadapi godaan setelah melaksanakan ibadah haji. Apakah kita hanya mementingkan gelar haji agar gengsi atau derajatnya naik di mata masyarakat, atau memang haji kita karena Allah?
Amalan lainnya adalah anjuran untuk melakukan salat sunah safar dua rakaat, sebelum keberangkatan. Dianjurkan setelah membaca Al-Fatihah, membaca surat Al-Kafirun di rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas di rakaat kedua.
Selain sebelum keberangkatan, ada salah satu hadis yang meng­anjurkan untuk menjemput jemaah haji yang baru pulang dari Tanah Suci. Aisyah berkata bahwa Zaid bin Haritsah tiba di Madi­nah, sedangkan Rasulullah saw. sedang ada di rumahku. Maka beliau mendatanginya dan mengetuk pintu, lalu menghampirinya, menarik bajunya, memeluknya, dan menciumnya.
Hadis lainnya dari Ibnu Umar  bahwa Rasulullah saw. bila kembali dari suatu peperangan atau  haji atau umrah, beliau bertakbir tiga  kali kemudian mengucapkan, ”Tidak ada Tuhan selain Allah, tidak sekutu baginya. Bagi-Nyalah kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa. Orang-orang yang kembali, orang yang taubat, orang yang beribadah, orang yang bersujud, orang yang memuji. Benar dalam janji-Nya menolong hamba-Nya serta menghancurkan sekutu dengan sendirian.” (H.R. Bukhari)
Selamat mempersiapkan bekal takwa, berupa sabar, tawakal, rida, dan berprasangka baik kepada Allah. Selamat menunaikan ibadah haji!***

Penulis, perintis Biro Perjalanan Haji Plus dan Umrah Qiblat Tour dan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Qiblat Darul Hikam.

Artikel ini telah diterbitkan di HU Pikiran Rakyat 13-10-2009