Akhlak Dalam Berhaji

"Selamat mempersiapkan diri untuk melaksanakan ibadah ha­ji 1432 H/2011 kepada jemaah haji reguler maupun haji plus. Niatkan karena Allah, sebab ayat yang memerintahkan agar berhaji dan berumrah diawali kata karena Allah atau ‘wali­lla­a­hi’".


DALAM beberapa hari mendatang, jemaah haji dari seluruh du­nia akan ”menyerbu” dua kota suci, Mekah Almu­karramah dan Madinah Almunawwarah. Jemaah haji In­donesia akan diberangkatkan mulai 1 Okto­ber mendatang. Na­mun, je­maah haji dari negara lain, seperti Malaysia dan Me­sir akan berangkat pada minggu keempat September ini.
”(Musim) haji adalah bebe­rapa bulan yang dimaklumi (ditentukan). Barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, tidak boleh rafats (ber­kata kotor), ber­buat fasik, dan berbantah-bantahan di da­lam masa mengerja­kan haji. Dan apa yang kamu kerjakan be­rupa kebaikan, nisca­ya Allah mengetahuinya. Berbekallah dan sesungguhnya seba­ik-baik bekal adalah takwa dan bertakwa­lah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (Q.S. Al-Baqarah:197).
Nabi Muhammad saw. bersabda, ”Orang yang berhaji dan orang yang berumrah adalah tamu Allah. Jika mereka berdoa memohon kepada-Nya, niscaya diperkenankan-Nya, dan jika mereka memohon ampun kepada-Nya, niscaya diampuni-Nya.” (H.R. Ibnu Majah yang bersumber dari Abu Hurairah).
Tentu sebagai tamu harus mengormati dan mematuhi se­gala aturan dari pemilik rumah. Demikian pula dengan ibadah haji. Kepada para tamu, Allah berpesan agar para tamu dapat menjaga diri dan haruslah membawa bekal terbaik dari tanah air­nya. Bekal itu adalah takwa karena bersama nilai-nilai ke­takwa­an akan tumbuh sikap syukur, sabar, dan ikhlas.
Apabila para tamu Allah hanya berbekal tenaga semata apa­lagi uang, boleh jadi ia akan bertengkar dan berkelahi apabila sa­at tawaf dengan mengitari Kabah lalu kakinya terinjak oleh je­maah haji lain, tentu saja ia akan marah-marah. Demikian pula saat tempat salatnya ternyata ”dipersempit” karena tiba-tiba ada jemaah lain yang langsung salat persis di depannya. Ap­abila bekal yang diperbanyak adalah bekal rupiah atau ri­yal, boleh jadi bawaannya hanya ingin belanja saja sehingga ibadah di masjid terlupakan.
Jemaah haji yang berbekal takwa akan tumbuh sikap mera­sa selalu diawasi Allah (ihsan). Ketika muncul kejengkelan dan kekesalan suami pada istrinya atau sebaliknya, dia akan memahami bahwa Allah tahu sikap yang ada dalam dadanya sekali­pun terlihat ramah dan santun.
Ketika tumbuh sikap buruk dan perilaku yang tidak terpuji pada orang lain, Allah pasti mengetahui tamu-Nya yang ber­sikap tidak baik itu. Ketika tumbuh sikap riya, sombong, dan takabur di antara tamu-tamu-Nya, pasti Allah mengetahui satu per satu siapa yang bersikap tidak terpuji itu. Oleh karena itu, berbahagialah me­reka yang berbekal takwa ka­rena pada diri mereka akan tumbuh sikap yang terpuji dan akhak mulia.
Allah berfirman dalam bagi­an lain Q.S. Al-Baqa­rah:197, ”Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah me­nge­tahuinya.” Hal ini harus dimaknai pada saat se­seorang sen­dirian di kamar mandi dan ia membersihkan bagian-bagian yang kotornya, tidak perlu disampaikan kepada orang lain ka­rena Allah sudah mengetahui dan mencatat kebaikan itu.
Saat seorang jemaah haji menolong jemaah lain meski tidak mengenalnya, tidak perlu disampaikan kepada orang lain ka­re­na Allah telah mengetahui dan mencatat kebaikan itu. Ke­tika kita berada di Masjidilharam atau Masjid Nabawi lalu berlama-lama zikir, salat, membaca Alquran, berdoa, atau amal­an lainnya, tidak perlu dengan sikap riya menyampaikan hal itu kepada orang lain karena Allah dan malaikat-Nya su­dah mengetahui dan mencatat kebaikan itu.
Sikap-sikap seperti itu yang dapat menyelamatkan amalan-amalan seseorang dari sikap riya. Allah tidak akan menerima a­malan seseorang apabila dilakukan dengan riya atau ingin men­dapatkan pujian dari sesama manusia. Selamatkanlah a­mal­an kebaikan dengan ikhlas dan penuh mengharap rida Allah.
Nabi Muhammad saw. mengingatkan agar tetap sabar selama berada di Tanah Suci karena kesabarannya kelak akan menda­patkan derajat tertinggi,dan kelak Nabi akan menjadi saksi dan pembelanya di hari kiamat. Dari Yuhannas Maula Zubair, Ra­su­l­ullah bersabda, ”Siapa yang sabar menahan ke­susahan dan kesulitan yang dideritanya di kota ini (Tanah Suci), aku akan menjadi saksi atau pembelanya nanti di Hari Kiamat.” (H.R. Muslim hadis nomor 1.303).
Selamat mempersiapkan diri untuk melaksanakan ibadah ha­ji 1432 H/2011 kepada jemaah haji reguler maupun haji plus. Niatkan karena Allah, sebab ayat yang memerintahkan agar berhaji dan berumrah diawali kata karena Allah atau wali­lla­a­hi.
Semoga perjalanan ibadah haji berjalan aman dan lancar. Insya Allah! ***

Dedy Mulyasana
Penulis, pembimbing Haji Plus dan Umrah Qiblat Tour serta Guru Besar Universitas Islam Nusantara (Uninus).

Artikel ini telah diterbitkan di HU Pikiran Rakyat pada 27-09-2011