Al-Aqsha, Tanah Perjuangan Para Nabi

BULIR-bulir air ­mata sempat menetes ketika untuk pertama kalinya tour guide mengajak salat berjemaah di masjid Al-Aqsha. 

Betapa tidak, setiap Muslim pasti berkeinginan merasakan nikmatnya melaksanakan anjuran Rasulullah:  ”Tidaklah  dianjurkan secara sungguh-sungguh untuk melakukan suatu perjalanan kecuali perjalanan menuju ke tiga masjid, yaitu Masjid Al-Haram, Masjidku ini (Masjid An-Nabawi di Madinah), dan Masjid Al-Aqsha (di Palestina)”. 
Untuk sampai ke kompleks Masjid Al-Aqsha, dari penginapan, menelusuri jalan raya dan pertokoan, jaraknya lebih kurang  satu kilometer. Di setiap pintu masuk, dijaga ketat oleh tentara-tentara Israel, sekalipun sebenarnya tidak ada kendala yang berarti karena sebenarnya pengunjung yang bukan warga Palestina bebas keluar masuk. 
Sebelum masuk, di gang dan perkampungan menuju masjid, kami sering berpapasan para pemuda bugar yang dari wajahnya menunjuk kepada etnik tertentu (Arab). Mereka melontarkan senyum ramah, seolah-olah ­ingin mengucapkan terima kasih atas kunjungan kami ke masjid tua ini. Bagi mereka, kedatangan para jemaah dari berbagai belahan dunia adalah darah segar yang setiap waktu diharapkan kehadirannya agar semangat hidup, semangat meninggikan dan mensyiar­kan serta mendakwahkan Islam, serta semangat menjaga masjid bersejarah ini tetap hadir dan terjaga di dada mereka.
Air mata kembali terasa hangat, mengalir di pipi bercampur rintik air hujan, ketika mematung di halaman masjid. Beberapa kali menelan air liur sendiri, menahan rasa haru dan pilu sesaat setelah memperbandingkanya dengan kemegahan dua masjid suci lainnya, terutama masjid Nabawi di Madinah. Mata yang sembab ini bisa menangkap dengan jelas perbedaan yang sangat kontras dan mencolok di antara keduanya.
Masjid Al-Aqsha atau Baitul Maqdis terletak di tanah, di mana banyak diturunkan para nabi. Di seputar Al-Aqsha diyakini terdapat makam keluarga Nabi Ibrahim as, makam Nabi Syuaib as, makam Nabi Daud as, makam Nabi Sulaiman as, makam Nabi Yunus as, dan makam Nabi Musa as. 
Masjid Al-Aqsha juga merupakan ­kiblat salat pertama umat Nabi Muhammad saw, sebelum Allah ­mengubahnya kembali berkiblat ke masjid Al Haram. Untuk menunjukkan kejadian ini, Al-Bara bin Azib berkata: ”Saya salat bersama Nabi saw, menghadap ke arah Baitul Maqdis selama 16 bulan, sampai turun ayat di dalam Surat Al-Baqarah wa haitsu ma kuntum fawallu wujuhakum syatroh.” (HR Bukhari). 
Masjid Al-Aqsha juga merupakan bangunan kedua yang dibangun di ­muka bumi ini. Berdasarkan hadis ­riwayat imam Ahmad dan Abu Dzar, ketika Rasulullah ditanya oleh salah seorang sahabatnya tentang bangunan yang pertama dibangun dan diletakkan di muka bumi, beliau menjawab  ­Al-Masjid Al-Haram. Abu Dzar kemudian bertanya lagi: kemudian apa? Rasulullah menjawab, kemudian Masjid Al-Aqsha. Abu Dzar bahkan bertanya lagi, berapa lama antara keduanya? Rasulul­lah menjawab, 40 tahun.
Selain pengalaman baru, mengenali napak tilas perjuangan para nabi, ­motivasi dan spirit pun tergelorakan. ­Setidaknya itulah yang didapat dari ­kunjungan ke Al-Aqsha. Sebaliknya, bagi pemerintah Israel sendiri, ­tampaknya mereka juga tidak mau ­kehilangan keuntungan dengan datangnya para wisatawan, terbukti dengan pelayanan yang ditunjukannya. Tidak ada kesulitan berarti, sama seperti berkunjung ke negara lain. Tidak ada upaya-upaya mempersulit siapa pun yang berkunjung ke wilayah kekuasaanya. Oleh karena itu, bagi yang dilimpahi anugerah dari Allah, sempatkanlah berkunjung ke Aqsha, nikmati kekhusyukan ibadah di dalamnya, ­napak tilasilah perjuangan ­sebagian besar para nabi, sapalah saudara-saudara seiman di Palestina dengan salam penuh hangat.***

Dikdik Dahlan Lukman

Artikel ini telah diterbitkan di HU Pikiran Rakyat  12-02-2019