Allah swt Menantimu di Tanah Haram
Ketika ada saudara, tetangga, atau teman kerja yang melambaikan tangan sambil mengucapkan talbiah (labbaikallahumma labbaik), pasti Anda merindukan kembali untuk mengunjungi Arafah. Anda pasti rindu dengan suara lantang saat memanggil dan menyebut nama Allah swt di padang pasir yang terhampar luas. ”Ya Allah aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang ya Allah”.
Namun, tidak semua orang yang merindukan Arafah dan Baitullah bisa hadir di Tanah Haram. Hanya mereka yang beruntunglah yang bisa mengenakan kain ihram sambil mengucap talbiah. Banyaknya uang atau tingginya jabatan tidak menjamin yang bersangkutan mendapatkan kehormatan sebagai tamu Allah swt.
Bagi tamu Allah swt yang santun, mereka berhak mendapatkan jamuan, dimana doa-doanya dikabulkan, dosa-dosanya diampuni, dan kelak di hari kiamat berhak mendapatkan surga. Oleh karena itu, bersyukurlah bagi Anda yang mendapatkan kesempatan menjadi tamu Allah swt.
Allah swt berfirman dalam hadis Qudsi: ”Seseorang hamba yang telah Aku karuniai badan yang sehat dan rizki yang lapang, tetapi tidak mau bertamu kepada-Ku setelah 4 (empat) tahun, terlarang (bagi mereka untuk memperoleh rahmat Allah swt) (HQR Thabarani).
Bagi mereka yang berkecukupan harta dan berbekal badan yang sehat, tetapi tidak tebersit keinginan untuk memenuhi panggilan Allah swt, terlarang rahmat Allah bagi kesehatan dan hartanya. Sehat sih sehat, kaya sih kaya, tetapi di balik kesehatan dan kekayaannya terlarang rahmat Allah swt. Kekayaan dan jabatannya hanya dapat dinikmati semasa yang bersangkutan sehat. Oleh karena itu, bagi mereka yang belum mendapatkan kesempatan menjadi tamu Allah, tanamkan kerinduan untuk menyebut dan memanggil nama Allah swt di keheningan malam. Mintalah kepada Allah swt untuk dicatat sebagai tamu-Nya sebelum Malaikat pencabut nyawa datang memanggil.
Para pembaca ”PR”, saat ini ratusan juta manusia yang sudah berada di balik batu nisan sedang menjerit dan menyesali nasibnya. Boleh jadi mereka adalah orangtua, suami, istri atau saudara anda. Mereka berjanji apabila Allah swt mengembalikan ke dunia barang sesaat saja, mereka akan bersedakah dan menjadi orang yang saleh – lihat QS Al-Munafikun: 10. Oleh karena itu, keluarkan harta untuk menjumpai Allah di Tanah Haram dengan perilaku saleh, sebelum Allah swt memanggilmu di alam keabadian kelak.
Para pembaca, Rasulullah saw bersabda, bahwa : ”Nafkah yang kamu keluarkan untuk ibadah haji, sama dengan nafkah yang kamu keluarkan untuk sabilillah. Satu dirham yang kau keluarkan untuk ibadah haji, akan diganti dan dilipatkandakan 700 kali lipat”. (HR Ahmad).
Uang yang dikeluarkan untuk ibadah haji adalah simpanan akhirat yang nilai pahalanya dilipatgandakan 700 kali lipat oleh Allah swt. Apabila Anda punya uang Rp 100 juta, kemudian digunakan untuk ibadah haji atau untuk sedekah Rp 40 juta, maka sisanya bukan Rp 60 juta melainkan setara dengan pahala Rp 28 miliar ( Rp 40 juta x 700). Sementara itu, yang Rp 60 juta atau yang ada dompet dan yang ada di rekening bank belum tentu milik Anda. Boleh jadi uang itu milik rumah sakit, atau boleh jadi milik negara.
Allah swt punya berbagai cara untuk mengangkat dan menjatuhkan harkat dan derajat manusia. Boleh jadi hari ini seseorang diberi kekuasaan yang tinggi dan kekayaan yang banyak, tetapi siapa tahu besok hari bukan saja kekuasaan dan kekayaan hilang, tapi mungkin saja kehormatanya hilang di depan kepala lembaga pemasyarakatan (lapas). Namun, hal itu bukanlah petaka besar selama yang bersangkutan masih diberi kesempatan untuk bertaubat kepada Allah swt. Masih banyak kesempatan untuk menjadi kekasih Allah swt. Allah swt menantimu di Tanah Haram. ***
Dedi Mulyasana
Artikel ini telah diterbitkan di HU Pikiran Rakyat 31-07-2018