Baginda Rasulullah saw memanggil bulan Ramadan dengan beberapa panggilan. Salah satu di antaranya, beliau menyebutnya dengan Syahru Al Qur’an (bulan Al-Qur’an). Pada bulan Ramadan, Allah menurunkan Al-Qur’an.
Sebagaimana firman-Nya, ”Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia…” (QS Al-Baqarah 185).
Lima ayat yang pertama kali diturunkan terdapat dalam Surat Al-Alaq ayat 1-5. Diturunkan oleh Allah melalui Malaikat Jibril. Proses turunnya Alquran untuk yang pertama kalinya terjadi di Gua Hira. Gua tersebut sebagai tempat Nabi Muhammad saw menyendiri dari masyarakat, yang pada saat itu belum mengenal Allah. Peristiwa bersejarah ini membuat Gua Hira menjadi tempat yang begitu istimewa, karena menjadi saksi bisu turunnya Al-Qur’an.
Apa hikmah Nabi Muhammad saw memilih Gua Hira sebagai tempat untuk mendekatkan diri kepada Allah? Pertama, Gua Hira adalah satu-satunya gua yang desain batu-batuannya persis menghadap ke arah Kabah. Dengan posisi ini, Nabi Muhammad saw bisa mengamati masyarakat Mekah dari dalam gua tersebut, terutama masyarakat yang berada di seputar Baitullah (rumah Allah), Kabah.
Bagi Nabi Muhammad saw sendiri, melakukan ritual menyendiri dan bertafakur di Gua Hira melahirkan kedamaian dan kenyamanan hidup. Hal ini dilakukannya berulang-ulang, sampai mendapatkan wahyu pertama tersebut.
Hikmahnya adalah saat kita sedang menghadapi kegelisahan atau kegundahan hati di mana pun, carilah tempat yang tepat untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Bertafakur, bermuhasabah, dan berdialog dengan Allah, sehingga mendapatkan petunjuk atau ilham dari Allah yang akhirnya kita mendapatkan kejernihan pikiran dan ketenangan hati.
Kedua, Gua Hira terletak di puncak Jabal Nur (bukit cahaya). Bukit ini berada di wilayah Hijaz Saudi Arabia. Berjarak sekitar 6 km dari kediaman Nabi Muhammad saw. Jangan bayangkan bukit itu dipenuhi dengan pepohonan rindang seperti di Indonesia.
Jabal Nur merupakan bebatuan hitam yang tajam. Tingginya sekitar 200 m, dengan puncak berbentuk cembung. Adapun Gua Hira terletak sekitar 40 m di bawah pucuk Jabal Nur. Gua dangkal itu tingginya tidak sampai 1 meter, lebarnya berkisar satu hasta (50 cm), dengan panjang kira-kira 2 m. Tempat ini tergolong sempit dan kalau salat, hanya bisa dilakukan seorang saja.
Mencermati letak dan posisi Gua Hira, memberikan pelajaran berharga bahwa segala sesuatu memerlukan perjuangan dan pengorbanan. Tidak ada kelezatan tanpa pengorbanan. Termasuk mencari tempat untuk mendekatkan diri kepada Allah, itu tidak mudah. Banyak sekali ancaman, hambatan, tantangan, serta rintangannya. Bebatuan besar, terjal, dan runcing di seputar Gua Hira adalah simbol sekaligus saksi perjuangan Rasulullah.
Mudah-mudahan kita senantiasa diberikan kecerdasan oleh Allah untuk mampu menangkap berbagai hikmah dalam kehidupan ini.***
H Asep Totoh Gojali
Pembimbing Haji dan Umrah Qiblat Tour
Artikel ini telah diterbitkan di HU Pikiran Rakyat 12-05-2020