”Ana urid, anta turid, Wallohu maa yaf’alu mimman yuriid.” Artinya, ”Saya berkehendak, Anda berkehendak, dan Allah yang menggenggam seluruh kehendak dari semua yang punya kehendak.”
Lebih dari 200.000 jemaah calon haji dan ribuan jemaah umrah Indonesia harus menunda keberangkatannya ke Tanah Suci di tahun ini. Kebijakan ini diambil oleh lembaga terkait, baik di Arab Saudi maupun Indonesia, sebagai ikhtiar untuk menghindarkan jemaah terpapar oleh virus corona dan demi mempertahankan kelangsungan dan kesinambungan hidup.
Kaidah ushul menyatakan, ”Daf’ul mafaasid muqoddamun ’alaa jalbil mashoolih.” Artinya, ”Menolak kemafsadatan/keburukan harus didahulukan daripada mengambil maslahat/kebaikan.”
Tidak ada alasan untuk larut dalam kekecewaan yang berkepanjangan. Bersabar dan bertawakal harus menjadi senjata utama yang dikedepankan, menyikapi penundaan ibadah haji maupun umrah yang menjadi impian setiap mukmin ini.
Sabar artinya menerima keadaan ini dengan mengedepankan husnudzon billah (berbaik sangka kepada Allah). Cara dan jalan ini adalah yang terbaik dari Allah untuk semua pihak, termasuk jemaah tentunya.
Bagi seorang mukmin, hidup tidak serbakebetulan. Namun bergulir berdasarkan rencana Allah swt. ”Akan ada sisi hidup yang dirasa tidak begitu mengenakkan menurut rasa kita, tetapi harus yakin bahwa itu lebih baik di hadapan Allah. Dan sebaliknya, ada juga sisi hidup yang dirasa baik menurut rasa kita tetapi tidak baik di sisi Allah.” (QS Al-Baqarah: 216).
Tawakal adalah sikap memaksimalkan ikhtiar untuk menerima ketentuan dengan tetap berharap dan berusaha sampai Allah memberangkatkan pada waktunya yang tepat. Mengingat ibadah haji maupun umrah adalah ibadah yang berkaitan dengan paseuk, fisik, dan pesak (iman, badan, dan bekal) sehingga setidaknya kesiapan pada sisi-sisi inilah yang harus tetap dijaga dan dipertahankan.
Paseuk adalah kata dari bahasa Sunda, yaitu sebuah benda yang digunakan untuk menguatkan sesuatu, yang dalam hal ini ditujukan untuk menggambarkan keteguhan iman. Terkait dengan penundaan ibadah haji atau umrah, keyakinan bahwa Allah Mahamengetahui, Allah Mahaberkehendak, dan Allah tidak akan pernah menzalimi makhluk-Nya sedikit pun, harus tetap dijaga dan dipelihara sebaik-baiknya. Upaya mempertahankan keyakinan ini bisa dilakukan dengan memperdalam ilmu manasik haji dan umrah, selain terus berdoa agar Allah memberi segala kemudahan sampai pada waktunya.
Menjaga tubuh/fisik (badan) agar tetap sehat dan bugar dengan pola hidup teratur. Mengonsumsi makanan serta minuman yang halal dan baik, berolah raga dalam upaya mempertahankan stamina tubuh adalah termasuk ikhtiar yang tidak boleh dianggap remeh oleh setiap jemaah, karena salah satu tuntutan penting dalam ibadah umrah dan haji adalah kesiapan fisik yang prima.
Terakhir, adalah bekal berupa harta titipan Allah yang memang sudah disiapkan untuk keberangkatan ke Tanah Suci, hendaknya tetap dijaga dan tidak dibelanjakan untuk keperluan lain. Harta yang telah diniatkan untuk dibelanjakan di jalan Allah, dipastikan Allah akan menggantinya dengan berlipat. ”Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah, seperti dia menanam satu biji padi, dijadikanlah tujuh tangkai, dalam satu tangkainya tumbuhlah seratus biji padi.” (QS Al-Baqarah: 261).
Semoga pandemi Covid-19 ini segera berakhir. Kita kembali hidup normal, kembali berupaya mengabdikan diri kepada-Nya secara sempurna, termasuk beribadah haji dan umrah ke Baitullah.***
H Engkus Suhendar
Pembimbing Haji dan Umrah Qiblat Tour Islami dan Pengasuh Pontren Al Adzkar
Artikel ini telah diterbitkan di HU Pikiran Rakyat 30-06-2020