Dalam Al-Qur’an, tampaknya tidak ada ayat yang menjelaskan tentang kapan dimulainya ritual ibadah haji. Namun berdasarkan kajian M Shaleh Putuhena dalam bukunya Histiografi Haji Indonesia, ibadah haji itu sudah dimulai sejak Nabi Adam as yang pelaksanaannya sangat sederhana, yaitu tawaf sebanyak tujuh putaran, kemudian dilanjutkan dengan salat dua rakaat di depan pintu Kabah, dan diakhiri dengan berdoa di Multazam. Beberapa nabi lainnya, seperti Nuh, Hud, Shaleh, dan Syu’aib, dikabarkan juga pernah melaksanakan haji ke Baitullah.
Informasi dini terkait dengan Baitullah dan manasik haji, selain Surat Ali Imran ayat 96 yang mengutarakan bahwa bangunan tempat ibadah pertama di muka bumi ini adalah Baitullah, ditemukan pula pada Surat Al-Baqarah ayat 125-129. Dalam rangkaian ayat ini, Nabi Ibrahim as dan putranya, Nabi Ismail as, mendapat perintah Allah untuk membersihkan dan menyempurnakan pembangunan Kabah. Kemudian keduanya berdoa agar amalannya diterima Allah, menjadikan diri dan seluruh keturunannya sebagai umat yang berserah diri kepada Allah, ditunjukkan tata cara manasik haji, mengharap agar Allah swt mengutus seorang Rasul ke tengah masyarakat yang menghuni daerah seputar Baitullah itu untuk menyampaikan dan menjelaskan risalah-Nya.
Pada masanya pula, tata cara ibadah haji dilaksanakan secara sempurna. Atas arahan Malaikat Jibril, mereka berangkat ke Mina juga ke tanah Arafah. Menurut M Quraish Shihab dalam karyanya Haji dan Umrah, di tempat itulah Allah memerintahkan kepada Ibrahim untuk menyeru manusia melaksanakan ibadah haji sebagaimana digambarkan dalam Surat Al-Hajj 26-30.
Sejak saat itu, ritual ibadah haji tampaknya tidak pernah putus dari masa ke masa. Ketika Rasulullah saw diutus ritual ibadah haji, ini sudah menjadi agenda rutin masyarakat yang hidup di masa jahiliah itu, sekalipun dalam pelaksanaannya banyak sekali penyimpangan yang sangat jauh.
Kabah yang dijadikan pusat pemujaan berhala itu menjadi perhatian serius Rasulullah. Setiap saat, Rasulullah mengingatkan, Kabah harus dikembalikan fungsinya sebagaimana yang dikehendaki Allah swt sebagai pemiliknya. Puncak keberhasilan dari upayanya ini terjadi pada tahun ke-8 setelah beliau hijrah ke Madinah, yang dikenal dengan peristiwa Fathu Mekkah (Pembebasan Mekah). Saat itulah kaum Muslimin yang dipimpin langsung oleh Rasulullah membuang semua berhala yang ada di dalam maupun di sekeliling Kabah.
Satu tahun kemudian, Rasulullah saw mengangkat Abu Bakar ash-Shiddiq menjadi Amirul Hajj, mendampingi kaum Muslimin yang ingin mengerjakan haji. Rasulullah saw sendiri baru menunaikan ibadah hajinya yang pertama dan terakhir kalinya di tahun berikutnya.
Rasulullah menuntun para sahabat yang ikut dalam rombongannya secara terperinci setiap langkah, jenis, tata cara, maupun bacaan doa yang harus dilantunkan.
Dalam kesempatan ibadah haji ini pula, ketika memulai wukuf di tengah padang Arafah, Rasulullah sempat menyampaikan pidato monumentalnya, yaitu khotbah Arafah yang juga lebih dikenal dengan sebutan Khotbah Wada (Khotbah Perpisahan), karena inilah khotbah terakhir Rasulullah sebelum dijemput pulang ke pangkuan-Nya. Di antara serpihan khotbah itu, Rasulullah sempat meminta persaksian kepada umatnya tentang tugasnya menyampaikan risalah Allah.
Banjir air mata pun tak terbendung di kalangan para sahabat, karena dengan meminta persaksian tentang tugas kerisalahannya, mereka pun menyadari akan segera berpisah dengan orang yang sangat dicintainya. Tanda-tanda perpisahan itu dikuatkan dengan turunnya Surat Al-Maidah ayat 3, yang berbunyi, ”…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu….”***
Pembimbing Haji Khusus dan Umrah Qiblat Tour
H Endang Hermawan
Artikel ini telah diterbitkan di HU Pikiran Rakyat 14-07-2020