”Dan sempurnakanlah haji dan umrah hanya karena Allah”  (QS Al-Baqarah: 196).

Ikhlas karena Allah ­merupakan modal utama dan pertama dalam melaksanakan haji dan umrah. Tidak ada ibadah lain termasuk ibadah yang masuk dalam rukun Islam yang perintahnya di­awa­li dan diakhiri dengan kata ikhlas selain ibadah haji dan umrah. Hal ini seperti yang ditegaskan Allah ”Dan hanya untuk Allah manusia melaksanakan haji ke Bai­tul­lah, bagi orang yang mampu dalam perjalanannya”(QS Ali Imran: 97).
Apa itu ikhlas? Dalam mendefini­sikan ikhlas, ulama berbeda redaksi dalam meng­gambarkannya. Ada yang berpendapat ikhlas adalah memurnikan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ada pula yang berpendapat ikhlas adalah meng­esakan Allah dalam beribadah ke­pada-Nya. Ikhlas juga diartikan sebagai seorang mualaf melaksana­kan ketaatan se­mata-mata karena Allah. Dia tidak ber­harap peng­agungan dan penghormatan manusia, dan tidak pula berharap manfaat serta menolak bahaya.
Bila pekerjaan termasuk haji dan umrah ini tidak didasari rasa ikhlas, maka akan rusak, semua amalannya tidak diterima oleh Allah. Setiap perbuatan manusia di­mulai dari ­gerak hati atau niatnya. Untuk mencapai derajat mukhlisin (orang-orang yang ikhlas), yang harus ­diluruskan pertama kali adalah dari gerak atau niat.
Hal ini ditegaskan Allah, ”Padahal me­reka tidak disuruh kecuali supaya me­nyem­bah Allah dengan memurnikan ke­taatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka men­dirikan salat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah ­agama yang lurus” (QS Al-Bayyinah: 5).
Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa ka­lian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”. Kemudian ditegaskan kembali, ”Sesungguhnya setiap amalan harus disertai dengan niat. Setiap orang hanya akan mendapatkan balasan tergantung pada niat­nya. Barangsiapa yang hijrah karena cinta kepada Allah dan ­Rasul-Nya, maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena menginginkan perkara dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (hanya) mendapatkan apa yang dia inginkan” (HR Bukhari dan ­Muslim).
Melalui niat yang baik, menjadi awal perbuatan baik. Begitu pula ­niat yang ikh­las akan mengantarkan ke perbuatan yang ikhlas pula. Bila tingkatan yang terakhir ini mampu dicapai manusia, akan muncul ­kebersihan hati dan ketulusan jiwa sehingga tidak ada satu pekerjaan pun yang dirasa­kan sebagai beban.
Dalam ibadah umrah, keikhlasan ini menjadi bekal yang sangat pen­ting dan menentukan. Bekal uang, makanan, mana­sik, ibadah di Masjid Nabawi dan di Masjidilharam, tawaf, sai, serta ibadah lainnya selama perjalanan umrah tidak ada artinya bila tidak disertai keikhlasan ka­rena ­Allah.
Selain itu, ikhlas juga sebagai sumber dan induk dari amalan yang lainnya. Sikap ikhlas akan melahirkan sikap sabar, tawakal, ­pemaaf, suka menolong, tawadu, dan lain-lain. Apabila sikap-sikap yang dihasilkan dari keikhlasan tersebut selalu menyertai perjalanan umrah, apa pun yang terjadi akan terasa nikmat. 
Karena sangat pentingnya keikhlasan ini, kami di Qiblat Tour dalam manasik selalu menegaskan kepada jemaah umrah ataupun haji agar selalu meluruskan niat ikhlas karena Allah sehingga selalu terjaga. Haji dan umrah bukan karena malu terha­dap tetangga yang sudah melaksanakan um­rah, teman-teman yang sering berumrah, atau karena ingin disebut trendi. Bahkan selama perjalanan, penulis sering meng­ingatkan agar keikhlasan ini tetap ­terjaga sampai selesai prosesi ritus­ ­umrah.
Semetnara setelah beres perjalanan umrah, jemaah tetap saling mengingatkan agar keikhlasan yang telah ditanamkan sejak awal tidak rusak sekalipun umrahnya sudah ­selesai. Kemabruran haji dan umrah harus tetap terpelihara, di antaranya de­ngan saling menasihati, berbagi ­ilmu dan pengalaman, serta tentu saja silaturahmi atau reuni alumni haji dan umrah.***

AEP SAEPULOH

Artikel ini telah diterbitkan di HU Pikiran Rakyat 10-11-2015