BANYAK hadis yang menegaskan tentang keutamaan salat berjemaah bagi kaum pria adalah di saf awal.
Di mana pun, tanpa kecuali, termasuk di Masjidilharam dan Masjid Nabawi.
Salah satu bunyi hadis yang cukup terkenal adalah ”Seandainya kalian atau mereka mengetahui keutamaan yang terdapat pada saf yang terdepan, niscaya hal itu sudah menjadi bahan undian” (HR Muslim). Oleh karena itu, ketika membawa jemaah haji maupun umrah, terutama di Masjidilharam, penulis selalu menyempatkan diri untuk mengajak jemaah pria berusaha mengambil posisi saf terdepan, mendekati imam. Setidaknya sekali, terutama di waktu salat Subuh.
Mungkin karena sensasi yang didapatnya berbeda, tidak sedikit di antara mereka yang mengulangnya secara mandiri. Tampaknya, kesan yang didapat oleh jemaah akan lebih mendalam ketika secara kebetulan diimami oleh nama-nama seperti Imam As-Sudais, Asy-Syuraim, Bandar Balilah, Mahir al Mu’aiqiy yang memang sudah tidak asing di telinga umat Islam Indonesia.
Posisi imam Masjidilharam sendiri, dalam keadaan normal, biasanya mereka memimpin salat-salat fardu langsung di depan Kabah, tepatnya di pelataran tawaf antara pintu Kabah dengan Hijr Ismail. Di sekitar tempat ini telah dipersiapkan lubang-lubang khusus jack mikrofon.
Adapun mikrofon yang dipersiapkan untuk imam salat sendiri, tidak permanen di tempat tersebut. Setiap akan dilaksanakan salat lima waktu, semua kelengkapan seperti mikrofon, karpet, dan sajadah imam akan dibawa dari tempatnya, dipasang sesuai dengan letak dan fungsinya, dan setelah salat selesai, mikrofon dan semua kelengkapan alat tadi akan dibawa kembali ke tempat penyimpanannya.
Sebagai pusat ibadah umat Islam, Masjidilharam memang sebuah masjid yang sangat kompleks, berteknologi tinggi, dan indah, di samping memiliki daya tarik spiritual yang akan memunculkan kesan yang tak terlupakan seumur hidup.
Sering penulis mendapat pertanyaan dari jemaah ihwal keluar masuknya imam salat di Masjidilharam. Sepengetahuan penulis, imam yang akan memimpin salat fardu akan turun dari kendaraannya di parkir Istana Raja (Jabal Qubaisy).
Keluar dari pintu belakang istana kemudian masuk ke Masjidilharam melalui pintu Ismail. Beberapa langkah dari pintu Ismail telah tersedia lemari kecil tempat menyimpan sandal imam.
Setelah bertelanjang kaki, Imam melanjutkan perjalanan melalui eskalator, berjalan ke arah sudut/rukun Yamani. Sampai di rukun Yamani belok kiri menelusuri pinggiran Kabah untuk selanjutnya masuk di Hijr Ismail.
Di tempat ini biasanya imam melaksanakan salat Rawatib (Qabliyah) dan berdoa. Setelah dirasa cukup, imam selanjutnya keluar dari Hijr Ismail melalui pintu yang berbeda menuju tempatnya memimpin salat di pelataran tawaf antara pintu Kabah dan Hijr Ismail yang sudah diberi sajadah maupun kelengkapan lainnya.
Selesai memimpin salat, imam kembali dengan menggunakan rute sebaliknya diselangi dengan memimpin salat Jenazah (bila terdapat jenazah yang akan disalatkan) terlebih dahulu di tempat yang berbeda. Dahulu, sebelum renovasi besar-besaran, imam memimpin salat Jenazah itu di Hijr Ismail.
Selama berada di sekitar Masjidilharam, seorang imam mendapat penjagaan dan pengawalan ketat dari pasukan Askar khusus. Sejak turun dari kendaraan sampai ke tempat salatnya, di depan, di belakang, pinggir kiri dan kanannya selalu diapit oleh pihak keamanan (askar).
Bahkan ketika salat berlangsung, prosedur tetapnya terdapat beberapa orang askar (keamanan) yang tidak salat, bahkan sengaja menghadap ke arah jemaah sebagai antisipasi kemungkinan terjadi hal-hal yng tidak diinginkan. Fenomena ini mengingatkan kepada peristiwa terbunuhnya khalifah Umar bin Khathab ketika menjadi imam salat Subuh.
Abu Lu’lu’ah, seorang Majusi Persia yang berhasil menyusup di antara jemaah subuh, kemudian menikam khalifah dari belakang. Tikamannya inilah yang menyebabkan wafatnya Al Farouq, Umar bin Khathab.***
Dikdik Dahlan Lukman
Pembimbing Haji Plus
dan Umrah Qiblat Tour
Artikel ini telah diterbitkan di HU Pikiran Rakyat 15-10-2019