”Di Tanah Suci, saya hanya akan fokus ibadah.” Kalimat seperti itu tampaknya sudah umum disampaikan oleh orang yang akan berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji atau umrah. 

Kalimat ini diungkapkan sebagai gambaran tentang motivasi dan tekad yang sangat kuat dari jemaah untuk memaksimalkan dan mengoptimal­kan kesempatan berkunjung ke Tanah Suci dengan ibadah semata.

Betul, setiap Jemaah perlu me­motivasi diri, karena berkunjung ke Tanah Suci tujuan utamanya adalah beribadah, memenuhi panggilan ­Allah. Apalagi kalau mengingat ­bahwa kesempatan berkunjung ke Tanah Suci itu tidak dimiliki semua orang. Untuk menggapainya, tentu tidak cukup hanya dengan bermodal semangat, tetapi diperlukan pula kepiawaian mengolah strategi, termasuk di dalamnya adalah menyangkut perlengkapan dan kesiapan teknis yang langsung atau tidak langsung banyak berpe­ngaruh terhadap optimalisasi ibadah. Contoh sederhananya adalah jarak penginapan/hotel ke masjid. Sayangnya banyak jemaah yang abai terhadap hal ini.

”Kalau saja jemaah umrah mendapat fasilitas hotel yang langsung menyentuh halaman Masjidilharam, untuk bisa optimal ber­­ibadah sedikitnya diperlukan 5 km berjalan kaki setiap harinya”. Penggalan kalimat ini selalu dilontarkan Direktur PT Qiblat Tour Wawan R Misbach di hadapan jemaah umrah dalam setiap manasik teknis yang menjadi tanggung jawabnya. Bagi jemaah umrah yang baru pertama kali berangkat, pernyataan ini mungkin cukup mengagetkan. Bukankah pihak travel selalu menjanjikan kemudahan dan kenyamanan?

Jemaah yang tinggal di hotel yang langsung berbatasan dengan halam­an masjid, sebagai gambaran, mula-mula ia harus berjalan kaki -/+ 100 m untuk sampai ke pintu masjid. Dari pintu masjid ke area tawaf dan salat rata-rata berjarak 300 m. Artinya, satu kali salat fardu, pulang-pergi diperlukan jalan kaki 800 m. Kalau 5 salat fardu dikerjakan di Masjid al Haram seluruhnya, berarti sudah 4 km seorang ­jemaah berjalan kaki dalam sehari­nya. Belum lagi kalau mengerjakan tawaf dan salat-salat sunah serta ­aktivitas lainnya. Bayangkan, bagaimana kalau hotel tempat menginap jaraknya lebih jauh dari itu. Penulis tidak jarang menjumpai jemaah umrah yang banyak menghabiskan waktunya di lobi atau di depan hotel karena malas berangkat ke Masjidilharam karena terkendala jarak yang jauh ditambah iklim yang tidak bersahabat. Hotel yang dekat dengan masjid harus menjadi pilihan utama bagi jemaah umrah untuk bisa memaksimalkan ibadah.

Bahkan, seyogianya pilih hotel yang memang dekat ke masjid sekaligus juga dekat ke Ka’bah, karena tidak sedikit hotel yang dekat ke Masjidilharam tetapi jauh ke Ka’bah, yang menjadi sentral sekaligus fokus kegiatan jemaah umrah maupun haji. Sebagai contoh, hotel–hotel yang berdiri di ­sekitar bangunan perluasan Masjidilaram (King Abdullah Gate) baik di wilayah al Gazaz, Jabal Omar, dan lainnya. Hotel-hotel di seputar ini, dekat jaraknya ke masjid, tetapi lumayan jauh ke area tawaf atau Ka’bah.

Selain sekedar jarak, melalui ­travel yang dipilihnya, jemaah umrah berhak pula untuk mengenali lebih lanjut tentang fasilitas lain yang akan didapat dari hotel tempat ia menginap. Sebagai contoh adalah konsumsi yang akan didapat selama menjadi tamu di hotel tersebut. Penyajian konsumsi fullboard tentu berbeda dengan sistem katering. Fullboard disediakan sepenuhnya oleh pihak hotel, sementara sistem katering disediakan oleh pihak ketiga yang bekerja-sama dengan hotel atau travel. Makanan yang tersaji di fullboard sangat bergantung pada kebijakan hotel, mungkin saja ada beberapa menu makanan yang tidak biasa atau bahkan asing di lidah ­jemaah, tetapi biasanya lebih komplet, lebih bersih, dan lebih rapi ­penataannya. Pada sistem katering biasanya menu yang tersaji disesuai­kan dengan jemaah, tapi de­ngan tampilan dan penyajian yang sangat sederhana. Pada akhirnya, memang semuanya kembali kepada selera masing-masing. Namun yang pasti kebulatan tekad untuk mengoptimalkan kesempatan beribadah jangan sampai terkenda­la oleh jarak hotel yang jauh ke masjid atau oleh menu makan yang tidak mengundang selera.***


Dikdik Dahlan Lukman
Pembimbing 
haji dan umrah 
Qiblat Tour

Artikel ini telah diterbitkan di HU Pikiran Rakyat 10-12-2019