Oleh TATA SUKAYAT
Pembimbing Haji Plus dan Umrah Qiblat Tour dan Dosen UIN Sunan Gunung Djati
ALHAMDULILLAH sebagian jemaah haji Indonesia telah kembali ke tanah air. Besar harapan kita, semoga ibadah haji yang telah dilaksanakan menjadikan mereka sebagai pribadi baru yakni pribadi yang saleh secara individu dan sosial. Pribadi yang siap membawa negeri ini menjadi lebih baik dan lebih makmur.
Haji yang membangun negeri sebagaimana telah dilakukan umat Islam zaman dahulu di masa penjajahan Belanda. Peran mereka yang telah melaksanakan ibadah haji begitu besar. Begitu pula semangat mereka untuk keluar dari belenggu penjajahan sangat luar biasa. Semangat mereka menggelora. Selain karena nilai-nilai luhur ritus ibadah haji, juga terinspirasi oleh saudara-saudara seakidah dari berbagai belahan dunia di kota suci Mekah, di negeri di mana umat Islam tidak boleh diinjak-injak dan dijajah bangsa lain.
Sekalipun zaman telah berubah dan Indonesia telah meraih kemerdekaan, kemakmuran masih jauh panggang dari api bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Untuk itu, peran semua umat Islam khususnya bagi mereka yang baru pulang dari Tanah Suci sangat dibutuhkan.
Mereka yang telah menunaikan ibadah haji termasuk salah satu pilar dalam meraih kemakmuran negeri dari empat pilar sebagai penentunya, yaitu: adilnya para pemimpin, ilmunya alim ulama, dermawannya para aghnia, dan doanya orang-orang fakir. Secara spiritual, orang fakir dimaknai sebagai orang yang selalu merasa butuh dan tergantung kepada Allah. Rasulullah saw adalah orang yang fakir itu sehingga ketika tali sandalnya saja terputus nabi berdoa dan memohon bantuan Allah SWT.
Menurut nabi, doa adalah senjata orang-orang beriman. Bagi jemaah haji tentu bersimpuh untuk bermohon ke hadirat Allah SWT selama di Tanah Suci, bukan lagi sebagai tuntutan melainkan kebutuhan setiap saat. Tiada saat tanpa bermohon kepada Allah SWT terutama di tempat-tempat doa diijabah. Tradisi membutuhkan Allah setiap saat ini, menjadi pilar sekaligus aset dalam membangun negeri tercinta.
Di antara doa dan harapan yang banyak dipanjatkan jemaah haji adalah doa yang bersumber dari hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar dan Ibnu Mas’ud, yaitu: ”Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami haji yang mabrur, usaha yang disyukuri, dan dosa yang diampuni.” Redaksi doa ini mencantumkan permohonan haji mabrur sebagai prioritas utamanya, baru kemudian berkaitan dengan usaha dan dosa. Seolah-olah urusan dosa saja tidak lebih penting dari haji mabrur.
Lebih dari itu, dalam hadis lain dinyatakan bahwa tiada balasan bagi haji yang mabrur kecuali surga. Tentu surga dimaksud adalah kebahagiaan dunia dan akhirat, serta dihindarkan dari azab Allah SWT, sebagaimana dicerminkan dalam untaian doa tadi yang sunah dibaca ketika melintas di antara rukun Yamani dan Hajar Aswad yang dikenal sebagai ”doa sapujagat”.
Doa dan harapan menjadi haji mabrur ternyata tidak hanya harapan pribadi yang berhaji melainkan harapan negeri. Karena kata mabrur berbeda dengan keinginan agar ibadahnya makbul. Makbul hanya memiliki orientasi individu agar ibadah yang dilaksanakan diterima oleh Allah SWT, sedangkan mabrur selain orientasi individu, juga memiliki orentasi sosial.
Karena kata mabrur dalam bahasa Arab, berasal dari kata barra-yaburru-barran dan bermakna taat berbakti. Kata-kata mabrur juga terkait dengan kata-kata albirru yang bermakna ketaatan, kesalehan, atau kebaikan. Pemahaman ini menggambarkan haji mabrur adalah haji yang dilaksanakan dengan prinsip-prinsip kebaikan dari segi niat, kaifiat, maupun dana yang dipakai dalam melaksanakan ibadah haji. Selain itu, setelah berhaji mampu mempertahankan dan meningkatkan segala amal kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.***
Artikel ini telah diterbitkan di HU Pikiran Rakyat 21-10-2014