ENGKUS SUHENDAR
Pembimbing Haji Plus dan Umrah Qiblat Tour
Iduladha yang dirayakan setiap tanggal 10 Zulhijah, dikenal juga sebagai hari raya kurban, karena hari raya tersebut ditandai dengan pelaksanaan penyembelihan hewan kurban yang dilakukan setelah salat Iduladha hingga akhir tanggal 13 Zulhijah.
SALAT Iduladha dan ibadah kurban tersebut adalah perintah Allah swt. ”Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. (QS Al-Kautsar, 1-2).
Kurban yang berasal dari kata qaraba berarti dekat. Dengan demikian, kurban berarti upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. dengan melakukan penyembelihan hewan yang telah ditentukan oleh aturan agama. Hewan-hewan yang dimaksud adalah unta, kerbau, sapi, dan domba/kambing. Oleh karena itu, hewan sembelihan yang dimaksudkan untuk ibadah kepada Allah swt. disebut hewan kurban. Penyembelihan hewan kurban merupakan napak tilas dari sejarah kehidupan keluarga Nabi Ibrahim as, yang kemudian menjadi syariat Islam, dan diabadikan dalam Alquran (Ash-Shafat: 102-111). Peristiwa kurban bukan hanya dimaknai dengan menyembelih hewan kurban. Tetapi, kurban setidaknya memiliki empat nilai pendidikan.
Pertama, melalui ibadah kurban, Allah mendidik hambanya untuk menjadi hamba Allah yang taat. Betapa tidak, ketika Ibrahim as mendapat perintah untuk menyembelih anaknya Ismail, dengan rida dan ikhlas Ibrahim tetap melaksanakannya. Hal itu membuktikan ketaatan Ibrahim kepada Allah lebih kuat dibanding apa pun. Kecintaan Ibrahim kepada Allah lebih kuat dibandingkan dengan cintanya kepada makhluk.
Kedua, melalui kurban Allah mendidik manusia agar menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Hal ini dapat dilihat dari kisah Ibrahim as yang telah membaringkan puteranya Ismail, maka kemudian Allah menggantinya dengan seekor sembelihan (kibas) yang besar. Hal ini menunjukkan bahwa nyawa manusia harus dipelihara dengan baik. Tunduk kepada Allah harus dibuktikan dengan komitmen untuk senantiasa mencintai sesama, apa pun suku, bahasa, warna kulit, dan agamanya.
Ketiga, melalui ibadah kurban Allah mendidik manusia agar memiliki kesadaran dan kepedulian sosial. Kesadaran sosial tersebut diwujudkan dalam bentuk memberikan bantuan konkret yang bisa meringankan beban fakir miskin.
Keempat, melalui ibadah kurban Allah mendidik manusia agar senantiasa menjauhi bahkan menghilangkan sifat-sifat kebinatangan. Secara syariat ibadah kurban adalah menyembelih hewan, tetapi menyembelih sifat kebinatangan yang ada pada diri kita seperti ego, sifat rakus, cinta berlebihan terhadap harta, dan jabatan atau kekuasaan.
Bagi jemaah haji penddikan kurban telah dilaksanakannya karena haji merupakan ”paket lengkap” pendidikan baik bersifat fisik, psikis, keuangan, toleransi, sampai silaturahmi dengan kaum Muslimin sedunia. Selebihnya, tinggal menerapkan nilai-nilai tersebut setelah pulang ke tanah air sehingga meraih haji mabrur.***
Artikel ini telah diterbitkan di HU Pikiran Rakyat 07-10-2014