REBANA dan salawat mengantarkan jemaah umrah bersama Qiblat Tour, baru-baru ini. Dari ratusan jemaah umrah, terselip tiga orang jemaah, tetapi ketiganya diantar keluarga memakai bus besar. Subhanallah!
Tidak ada yang bepergian diantar dengan begitu banyak orang serta diiringi alunan rebana dan salawat, kecuali saat umrah atau haji. Begitu terdengar suara talbiyah yang dikumandangkan oleh pembimbing, rasanya kita yang sering berangkat haji dan umrah ingin berangkat lagi.
Inilah salah satu ibadah yang mempunyai daya magnet amat kuat. Tidak ada seorang Muslim pun, yang mampu menolak panggilan sang Khalik, Labbaika allaahummalabbaik. Labbaika laa syariikalakalabbaik. Innal hamda wanni'mata laka walmulka laa syarikalak. (Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Ya Allah aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji dan nikmat adalah milik-Mu semata-mata segenap kekuasan milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu.)
Dalam Alquran ditegaskan, sebaik-baik bekal haji dan umrah adalah takwa yang dimulai dengan niat ihklas, sabar, tawakal, dan dengan akhlak yang baik. Jika bekal rohaninya sudah kita siapkan, kita juga wajib ihktiar dengan menyiapkan fisik kita yang kuat (sehat) serta mempersiapkan juga dokumen perjalanan agar kita dapat memasuki/datang ke negara orang dengan legal.
Hal pertama yang dilakukan kaum Muslimin yang akan berhaji atau umrah adalah menyiapkan paspor apabila belum memilikinya. Kita datang ke kantor imigrasi setempat, untuk membuat paspor dengan persyaratan yang harus kita siapkan, seperti fotokopi KTP, akta lahir, kartu keluarga, dan bagi yang sudah nikah menyertakan surat nikah, dan rekomendasi dari instansi tempat kita bekerja.
Jika sudah memiliki paspor, kita harus mendapatkan visa atau izin tinggal di negara yang akan tuju. Persyaratan untuk membuat visa dengan menyertakan paspor, KTP asli (bagi wanita di atas 45 tahun), wanita di bawah usia 45 tahun melampirkan fotokopi KTP. Persyaratan lain menyertakan pas foto berwarna dan pengambilan gambarnya 80 persen wajah.
Persyaratan lainnya, keharusan untuk vaksin meningitis yang dilakukan di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) di Bandara Husein Sastranegara dan Bandara Cirebon. Untuk pengurusan visa haji maupun umrah tidak bisa dilakukan perseorangan, sehingga kita meminta bantuan biro perjalanan haji dan umrah.
Pengurusan dokumen perjalanan haji lebih mudah daripada umrah, karena surat perjanjian ibadah haji dilakukan dua negara (Indonesia dan Arab Saudi), sedangkan umrah dilakukan perusahaan. Tak heran apabila ada jemaah umrah yang tertunda keberangkatannya, akibat visa umrah belum turun.
Setelah semua dokumen beres dan sudah divaksin meningitis, insya Allah kita sudah bisa berangkat umrah bersama dengan jemaah lainnya. Dalam perjalanan menuju ke Tanah Suci, para pembimbing Qiblat Tour akan menekankan pentingnya meluruskan niat umrah. Untuk apa kita berhaji atau berumrah?
Dalam hati sanubari terdalam, kita harus menekankan bahwa umrah dan haji untuk melaksanakan perintah Allah dan Rasulullah. ”Dan berserulah kepada manusia untuk berhaji, niscaya mereka datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus (karena jauh dan sulitnya perjalanan) yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka.” (Q.S. Al-Hajj : 27-28)
Selain itu, umrah dan haji untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui tawaf, sai, salat, zikir, dan khusus haji ditambah dengan wukuf dan melempar jumrah. Umrah dan haji juga wahana untuk napak tilas dan mengikuti perjuangan para nabi dan sahabat-sahabatnya.
Haji dan umrah juga sebagai ajang mengungkapkan rasa syukur atas berbagai nikmat, memperkuat silaturahmi Muslimin sedunia, minimal sesama jemaah dan menyaksikan berbagai tanda bukti eksistensi dan kebenaran ajaran Allah SWT.
Tak kalah pentingnya, umrah dan haji merupakan wahana tepat untuk menyampaikan doa dan harapan kepada Allah. ”Orang-orang yang sedang berhaji atau berumrah adalah tamu-tamu Allah, maka jika kamu memohon kepada-Nya, pastilah dikabulkan dan jika mereka memohon ampun pasti diampuni.” (H.R. Ibnu Majjah dan Ibnu Hibban)
Allah juga menjamin antara umrah yang satu dengan umrah berikutnya merupakan kifarat atau penebus dosa di antara keduanya. ”Barang siapa yang datang ke Baitullah ini, lalu tidak berbuat keji dan fasik, dia akan menjadi seperti saat dilahirkan ibunya.” (H.R. Nasai)
Insya Allah jika kita sudah mempersiapkan diri dengan bekal takwa dan kesiapan fisik serta persyaratan dokumen perjalanan telah kita siapkan sesuai dengan ketentuan negara yang akan dikunjungi, hal-hal yang tidak kita harapkan tidak akan terjadi. Kita akan mendapatkan kelancaran dan kemudahan dalam melakukan rangkain ibadah haji maupun umrah, jika kita datang bertamu dan mematuhi aturan dan etika yang mengundang.
Mudah-mudahan kita dapat melaksanakan ibadah dengan baik dan benar, mulai dari mempersiapkan dokumen perjalanannya dan memilih biro perjalanan. Terakhir, melaksanakan rangkaian ibadah haji dan umrah dengan baik dan benar sesuai dengan contoh Rasulullah.***
H. Wawan Misbach
Penulis, direktur Biro Perjalanan Haji Plus dan Umrah Qiblat Tour dan pembina KBIH Qiblat Darul Hikam.
Artikel ini telah diterbitkan di HU Pikiran Rakyat 29-03-2011