umrah menjadi salah satu ibadah yang sangat digandrungi oleh mayoritas umat Islam dari berbagai pelosok dunia.
Sampai-sampai umat Islam rela menggelontorkan uang dalam jumlah yang besar, menguras banyak pikiran dan tenaga, bahkan sampai meninggalkan tanah kelahirannya, meninggalkan keluarga, pekerjaan, dan hal penting lain yang sifatnya duniawi.
Berdasarkan pengalaman penulis, selama tujuh tahun membimbing umrah, penulis sering menyaksikan, terutama di Tanah Suci, begitu banyak umat manusia berbondong-bondong melaksanakan umrah. Namun, sekilas terlihat dari mimik mereka, banyak juga yang kurang memaknai dan menikmati ibadah umrahnya, bahkan ada juga terlihat seperti ”tersiksa” mengikuti umrah yang mungkin dianggapnya begitu berat.
Tipologi orang-orang seperti itu, tentu tidak akan bisa merasakan manis dan lezatnya ibadah umrah, karena standar umrah mereka adalah standar umrah ”superminimalis”, yaitu asal berangkat umrah. Mereka berangkat tanpa ditopang oleh kesiapan mental dan hati (niat) yang tulus, pengetahuan/ilmu yang cukup, serta bimbingan layanan prima dari pihak travelnya.
Oleh karena itu, penulis mengusulkan, terutama bagi jemaah umrah pemula, jangan hanya ”asal memilih” travel umrah. Sebelum menentukan travelnya, pastikan bahwa travel yang akan dipilih tersebut berkualitas, memiliki layanan prima dalam bimbingan ibadah dan layanan selama di perjalanan.
Setidaknya, travel umrah yang akan dipilih adalah travel yang direferensikan banyak orang yang bisa dipercaya kesahihannya. Jangan cepat-cepat terbujuk dengan rayuan iklan yang menggiurkan, sebab itu hanya bagian dari strategi pemasaran yang direkayasa sedemikian rupa, baik dari pemilihan kata-kata, penempatan gambar-gambar, pewarnaan yang menarik, dan sebagainya. Itu dilakukan hanya untuk menarik simpati calon jemaah.
Jemaah umrah yang diberangkatkan dari travel yang kurang memiliki rasa tanggung jawab dalam bimbingan ibadah dan layanan selama di perjalanan, bisa dipastikan ketika mereka berada di kedua Tanah Suci (Mekah dan Madinah), mereka itu terlihat ”kelimpungan” atau ”kebingungan” karena tidak mengetahui hal-hal yang seharusnya dilakukan selama di kedua Tanah Suci itu. Jika sudah demikian adanya, lalu bagaimana mungkin bisa meraih umrah mabrur?
Selama membimbing umrah, penulis juga sering merenungkan, terutama untuk diri pribadi, bahwa ternyata orang-orang yang memiliki segudang ilmu dan pengalaman dalam hal umrah pun belum tentu mampu meraih umrah mabrur. Karena setelah menguasai fikih umrah masih ada pekerjaan lain yang harus dilakukan oleh jemaah umrah, yaitu menghadirkan sufistik umrah atau akhlak dalam umrah.
Sufistik umrah itu adalah upaya menghadirkan pemurnian tauhid atau kesucian hati dalam pelaksanaan rangkain perjalanan ibadah umrah. Hanya dengan hadirnya kesucian hati, kaifiyat fikih umrah (syarat, rukun, wajib, dan sunah umrah) itu menjadi bermakna dan membekas pada diri dan kepribadian jemaah.
Tanpa hadirnya akhlak karimah dalam umah (sufistik umrah) pada seluruh rangkaian ibadah umrah, mana mungkin diri kita yang lemah, banyak dosa, banyak maksiat, dan jauh dari kesempurnaan ini, mampu memaknai, menghayati setiap rangkaian ibadah umrah, apalagi mampu menyingkap tabir kebesaran Allah yang Mahasempurna. Jangan-jangan kunjungan kita ke Baitullah melalui program umrah, masih diselimuti rasa sombong, ujub, takabur, ria, dan sifat jelek lainnya, yang bersumber dari kebusukan hati. Jika demikian adanya, maka sejatinya kita belum umrah, karena belum mampu ”berkunjung” dan ”berjumpa” dengan pemilik Baitullah yaitu Allah Jalla Jalaluh.***
Artikel ini telah diterbitkan di HU Pikiran Rakyat 26-11-2019