Oleh Aden Rosadi

Berhaji atau umrah berarti manusia atau makhluk bertamu kepada ­Allah, Sang Khalik, Yang Mahapencipta. Pada waktu tertentu,  jemaah berkunjung ke rumah Allah SWT dan tempat-tempat yang mustajab lainnya. Itulah sebabnya, orang berhaji atau umrah disebut juga sebagai dhuyufur rahman, tamunya Zat Yang Mahapengasih dan Mahapemurah.

Menjadi tamu Allah SWT dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, menjalankan ibadah haji atau umrah dan mengunjungi rumah ­Allah SWT, Baitullah, Kabah ­Al-Musyarafah. Kedua, dengan cara meninggal dunia.

Pakaian yang dikenakan saat menjadi tamu Allah, baik dengan cara pertama ataupun cara kedua, adalah sama. Kedua cara dilakukan dengan mengenakan pakaian putih tanpa jahitan (kafan), kecuali Muslimah yang mengenakan pakaian berjahit saat berhaji atau umrah.

Jemaah haji atau umrah berkunjung ke Baitullah di Mekah diyakini atas undangan Allah SWT, baik secara langsung maupun tidak langsung. Mereka datang ke Baitullah sambil melantunkan kalimat talbiah. Labbaik Allahumma labbaik.

Selama di Baitullah untuk umrah, yang pertama kali dikerjakan adalah melakukan tawaf, sai, dan tahalul. Tawaf adalah berjalan me­ngelilingi Kabah sebanyak tujuh kali putaran. Seusai tawaf, jemaah melakukan  salat sunah dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim, salah satu tempat yang mustajab di Masjidilharam.

Sementara itu, sai ialah berjalan dari bukit Safa ke bukit Marwah dan sebaliknya, sebanyak tujuh kali yang berakhir di bukit Marwah. Selesai sai diikuti dengan prosesi tahalul yang ditandai dengan mencukur atau menggunting beberapa atau paling sedikit tiga helai rambut. Puncak tertinggi dari tingkatan orang bertamu ke Baitullah adalah saat menunaikan ibadah haji.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan diamalkan oleh para calon tamu Allah agar dapat menjadi tamu terbaik dengan hidangan terbaik dan oleh-oleh terbaik selama di Tanah Suci,

Pertama, luruskan niat. Niat menjadi kata kunci dalam semua ibadah. Ia menjadi sangat penting karena berhubungan dengan hati, lisan, dan perbuatan. Khusus dalam haji dan umrah secara tegas Allah SWT sebagai ”sahibul bait” menegaskan pentingnya meluruskan niat dalam haji dan umrah. Dalam firman-Nya, ”Dan sempurnakan haji dan umrahmu hanya karena Allah..” niat haji dan umrah hanya karena Allah SWT.

Kedua, jaga akhlak, prinsip umum akhlak dalam ibadah haji dan umrah sebagaimana tercermin dalam firmannya, ”maka barang siapa yang menunuaikan ibadah haji maka jangan rafats, fusuq, dan jidal…”. Ketiga hal tersebut baik rafats yang memiliki makna tidak boleh berpikir dan bertindak ke arah pornografi, fusuq tidak boleh berbuat dosa kepada Allah dan sesama manusia, maupun jidal yang berarti tidak boleh bertengkar atau konflik yang tidak perlu.

Ketiga, pahami manasik haji dan umrah. Manasik haji dan umrah, diarahkan pada dua hal penting yang harus dipahami para calon jemaah, yakni manasik  tata cara ibadah dan manasik  teknis dan akomodasi selama umrah. Qiblat Tour sebagai salah satu biro perjalanan haji plus dan umrah selalu menempatkan kedua manasik tersebut pada porsi yang utama. Ia menjadi penting karena berhu­bung­an dengan ke­yakinan dan ke­be­naran dalam hal ibadah sesuai dengan tuntunan syariat, dan ketenangan dan kenyamanan dalam teknis perjalanan selama di Tanah Suci.

Keempat, jalin kerja sama dalam bentuk silaturahmi antarjemaah. Kelima, sabar atau berikhtiar maksimal, ikhlas, sehingga apa pun yang terjadi adalah takdir terbaik dari Allah SWT, dan tawakal de­ngan berserah diri kepada Allah SWT.

Menjadi tamu terbaik dan memperoleh jamuan terbaik merupakan dambaan setiap calon jemaah. Akan tetapi, lebih dari itu semua adalah cara memperoleh oleh-oleh terbaik dari prosesi ibadah haji dan umrah menjadi jauh lebih baik dalam konteks kesempurnaan nilai-nilai keislaman dan keimanan guna perbaikan kehidupan di masa yang akan datang. Mabrur wa mabruk. Semoga.***

Artikel ini telah diterbitkan di HU Pikiran Rakyat 07-03-2017