HARI Arafah yang jatuh tiap 9 Zulhijah 1438 H merupakan puncak ibadah haji yang diisi dengan pelaksanaan wukuf. Pada tahun ini diperkirakan jatuh pada Kamis (31/8/2017). Bulan Agustus di Tanah Suci Mekah, biasanya merupakan puncak musim panas. Ketika mencapai puncaknya, suhu Mekah bisa mencapai 50 derajat Celsius. Bagi jemaah haji Indonesia ini sangat penting diketahui karena suhu seperti ini tampaknya belum pernah terjadi di tempat mana pun di tanah air.
Perlu diingat pula ketika pelaksanaan rangkaian puncak ibadah haji yang diperkirakan mulai 30 Agustus sampai 4 September itu, seluruh jemaah akan terkonsentrasi di wilayah Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armina). Selama lima hari itu, jemaah haji banyak melakukan aktivitas fisik seperti wukuf, mabit, melontar jamarat, memotong hadyu, dan tawaf ifadah yang disertai sai di Masjidilharam.
Sementara di lain pihak, di tengah aktivitas fisik yang menguras energi itu fasilitas yang tersedia, baik di Mina, Muzdalifah dan Arafah hampir dapat dikatakan serba sangat terbatas. Di Mina misalnya, sekali pun di dalam tenda dilengkapi pendingin yang cukup, namun alas untuk beristirahat sangat sederhana. Apalagi kalau mengingat jumlah penghuni tenda tersebut yang kalau diilustrasikan, setiap jemaah hanya memiliki lahan yang cukup untuk berbaring saja.
Suhu panas yang bisa mencapai kisaran 50 derajat Celsius itu, bagi jemaah haji Indonesia mungkin menjadi pengalaman yang sangat berharga sekaligus menuntut persiapan ekstra. Selama 38 hari berada di Tanah Suci kemungkinan besar akan dilalui keseluruhannya di musim panas menyengat. Seperti diketahui, direncanakan kloter pertama akan diberangkatkan pada 28 Juli 2017, sementara kepulangan dari Tanah Suci ke tanah air diperkirakan selesai pada akhir Oktober 2017. Suhu panas di Tanah Suci, sudah terasa memasuki bulan Mei 2017 kemarin, seperti yang dialami penulis ketika membawa jemaah umrah Qiblat Tour, dan kemungkinan akan berakhir di kisaran awal November 2017.
Bagi jemaah Indonesia yang sudah biasa tinggal di tempat dengan cuaca dan iklim tropis yang bersahabat, ketika turun dari pesawat dan pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Suci, seketika mungkin panas menyengat sudah akan dirasakan sebagai gangguan. Inilah pentingnya jemaah haji sejak dini melakukan latihan fisik di bawah terik matahari dengan tantangan yang dibuat sendiri secara bertahap. Misalnya, seminggu pertama rutin berjalan kaki mulai pukul 9.00 sampai pukul 10.00. Minggu kedua, perjalanan dilakukan mulai pukul 10.00 sampai pukul 11.00. Minggu ketiga, latihan itu dimulai dari pukul 11.00 sampai 12.00 dan seterusnya.
Mengingat ekstremnya perbedaan suhu dan kelembapan udara Tanah Suci dengan suhu di tanah air, satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan dan hal ini sering dianggap sepele terutama oleh jemaah lanjut usia, yaitu menjaga asupan air agar terhindar dari dehidrasi. Usahakan setiap jam minum. Ada baiknya, air yang diminum selalu air zamzam yang selalu tersedia melimpah di Masjidilharam maupun Masjid Nabawi di Medinah.
Selain asupan air, imbangi pula dengan asupan makanan yang cukup. Pengalaman menunjukkan tidak sedikit jemaah yang fanatik dengan jenis makanan yang selama ini disantapnya sehingga selalu menunda-nunda makan karena selalu menganggap asing atau bahkan alergi dengan makanan yang tersedia. Ada baiknya pula dilengkapi dengan banyak mengonsumsi buah-buahan. Di Tanah Suci, buah-buahan cukup melimpah dengan kualitas yang cukup baik dan harga terjangkau.
Istirahat yang cukup juga menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Jemaah biasanya termotivasi untuk mengejar sebanyak-banyaknya pahala dengan alasan “mumpung” di Tanah Suci, sehingga lupa diri melakukan aktivitas fisik yang menguras energi, padahal sebelumnya tidak biasa dilakukan. Dalam cuaca dan suhu yang kurang bersahabat ada baiknya kunjungan ke masjid juga diatur. Misalnya, setelah salat subuh berjemaah di mesjid pergunakan untuk beristirahat di hotel. Menjelang Zuhur, sekitar pukul 10.00 – 11.00 waktu Arab Saudi, kembali berangkat, melakukan salat Zuhur dijamak dengan asar. Menjelang maghrib, setelah cukup teduh kembali berangkat ke masjid dan itikaf sampai berjemaah salat Isya.
Terakhir, perhatikan dan ikuti berbagai petunjuk yang diberikan oleh petugas haji di Tanah Suci, seperti selalu mnggunakan masker, menggunakan payung, menggunakan kaca mata hitam, memakai cream khusus untuk kulit muka, rajin membasahi muka baik dengan semprotan air atau handuk kecil yang sudah dibasahi. Bagi kaum pria yang merasa ribet membawa payung, kain serban bisa dipergunakan untuk penutup kepala sekaligus sajadah.
Beberapa tips di atas adalah ikhtiar untuk memaksimalkan anugerah kesempatan beribadah haji yang secara kebetulan jatuh di puncak musim panas. Selamat menikmati jamuan Allah swt. Semoga menjadi haji yang mabrur.***
| Dikdik Dahlan Lukman |
Artikel ini telah diterbitkan di HU Pikiran Rakyat 25-07-2017