Kata umrah, sepanjang ­pengetahuan penulis, hanya dua kali disebut dalam Al-Qur’an. Itu pun dikumpulkan da­lam satu ayat, yaitu pada ayat ke-196 Surat ­Albaqarah. 


Firman Allah dalam ayat tersebut langsung menohok, ”Dan sempurnakanlah iba­dah haji dan umrah karena Allah….” Penggalan ayat ini menjadi salah sa­tu dasar syariat haji mau­pun umrah. Sabda Rasulullah yang sangat terkenal terkait dengan ibadah umrah di antaranya, ”Umrah satu ke umrah lainnya adalah pene­bus dosa antara keduanya, sedangkan bagi haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.”

Berpijak dari bunyi ayat di atas, se­bagian ulama menetapkan, hu­kum umrah itu sama dengan iba­dah haji, yaitu wajib sedikitnya se­kali da­lam seumur hidup bagi yang me­miliki kemampuan. Na­mun, tidak sedikit yang meng­hukumkan sunah sa­ja. Di antara yang menjadi sandaran pendapat kedua ini, sabda Rasulullah tentang lima fondasi Islam yang hanya menyebut haji sebagai salah satu rukun Islam itu, tanpa menyebut um­rah. Rasulullah sendiri, se­pan­jang hayatnya pernah berumrah 4 kali dan haji 1 kali.

Tampaknya, berpijak dari penggalan ayat di atas juga, baik haji mau­­pun umrah hakikat adalah ber­kunjung ke Baitullah. Bedanya, ka­lau umrah dicukupkan dengan empat aktivitas saja, ya­itu berihram, ta­waf, sai, dan bertahalul. Ibadah haji dilengkapi keharusan wukuf di Ara­fah, mabit di Mina, dan Mudzdalifah, maupun melontar jamarat dan lain-lain. Setiap yang berhaji, pasti berumrah, tetapi tidak sebaliknya.

Aktivitas pertama dalam umrah adalah berihram. Allah telah menetapkan secara pasti tempat-tempat memulai ihram. Sebagaimana sabda Rasulullah, ”… Bagi penduduk Ma­dinah di Dzulhulaifah, penduduk Syam di Juhfah, penduduk Nejd di Qarn, pen­duduk Yaman di Yalamlam, begitu juga termasuk orang-orang yang ingin berhaji dan umrah yang berasal dari tempat lain, tetapi melewati daerah-daerah tersebut (maka miqatnya sama dengan dae­rah yang dilewati).”

Setelah mengucapkan labbaika umratan atau labbaika alla­humma ’umratan di tempat yang ditentukan di atas, pelaksanaan rukun selanjutnya adalah tawaf, yaitu mengelilingi Kabah tujuh kali putaran  dengan ketentuan senantiasa dalam ke­ada­an bersuci dan menutup aurat se­pan­jang tawaf. Dimulai dan diakhiri di su­dut Hajar Aswad. Posisi Kabah se­nantiasa berada di sebelah kiri. 

Khusus bagi kaum pria, ada anjuran agar berlari-lari kecil di tiga putaran pertama, selain membuka dan mem­perlihatkan bahu sebelah kanannya sepanjang tawaf (idthiba’). Setelah selesai melaksanakan tawaf lalu menuju ke tempat salat yang letaknya berada di belakang Maqam Ibrahim untuk melakukan salat dua rakaat. Dalam salat ini, setelah membaca Alfatihah, pada rakaat pertama dibaca surat Alkāfirūn, sedangkan pada rakaat ke­dua­nya, dibaca Surat Al-Ikhlās. 

Selesai tawaf dan salat di bela­kang Maqam Ibra­him, disunah­kan kembali beristilam ke Hajar Aswad dan me­minum air zam-zam. 

Aktivitas selanjutnya adalah sai, yaitu berjalan antara Safa dan Marwah tujuh perjalanan, dimulai dari Safa dan diakhiri di Marwah. Pada saat sai, jemaah umrah tidak diharuskan senantiasa su­ci dari hadas (berwudu), dianjurkan untuk naik ke bukit Safa ma­u­pun Marwah untuk berdiri di sana sambil melihat Ka­bah, mengangkat tangan tinggi-tinggi, bertakbir, dan berdoa. Dalam se­tiap perjalanannya, setiap kali melewati lembah mendatar yang saat ini ditandai lampu hijau, bagi pria di­anjurkan untuk berlari-lari kecil sambil memperbanyak istighfar. 

Setelah berakhir perjalanan ketujuh (di bukit Marwah), aktivitas terakhir dari ibadah umrah adalah tahalul, yaitu menggunting rambut untuk mengembalikan dari kondisi ihram kepada kondisi kehidupan normal karena sepanjang berihram yang dimulai sejak mengucapkan niat sampai jatuhnya rambut tahalul itu, jemaah umrah harus menjaga diri dari berbagai larangan yang bermuara kepada tiga besaran, ra­fats (nafsu syahwati), fusuq, dan jidal (ber­bantah-bantahan). 

Setelah bertahalul, tidak ada larangan me­makai wangi-wangian, memotong kuku, berpakaian biasa, dan la­rangan-larangan lainnya. Bertaha­lul, menandakan selesainya prosesi ibadah umrah secara keseluruhan. Wallahualam.***

Dikdik Dahlan Lukman

Pembimbing Haji Plus dan Umrah Qiblat Tour

Artikel ini telah diterbitkan di HU Pikiran Rakyat 18-02-2020