Dalam ibadah haji, ada satu ritual yang dilakukan oleh jemaah yang telah berihram, yaitu memakai pakaian ihram. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis, ”Hendaklah salah seorang dari kalian berihram dengan menggunakan sarung dan selendang serta sepasang sandal.” (HR Ahmad). 
Maksud menggunakan sarung dalam hadis di atas ialah kain yang diutamakan berwarna putih, seperti sabda Rasulullah saw, ”Sebaik-baiknya pakaian kalian adalah yang putih, maka kenakanlah dia dan kafanilah mayat kalian dengannya.” (HR Ahmad). Begitupun pendapat dari Ibnu Taimiyyah dalam kitab Manasik bahwa ”Menggunakan kain ihram itu sunah dan diutamakan berwarna putih.” 
Ada kisah menarik untuk disimak di balik perintah menggunakan pakaian ihram, tidak boleh dijahit dan bahu kanannya harus terbuka. Pada waktu Nabi Muhammad saw beserta rombongan pergi umrah untuk pertama kalinya, Abu Sufyan menyebarkan isu bahwa kaum Muslim yang sedang umrah men­derita penyakit kuning yang menular, sehingga ada alasan mengusir Nabi Muhammad saw dan rombong­an dari Mekah. 
Mendengar isu ini, Rasulullah saw meminta rombongan untuk memperlihatkan lengan kanannya, dan melipat kain ihram di bawah ketiak kanannya, dan berlari kecil saat ta­waf sambil membaca talbiah. Kemudian kaum kafir Quraisy melihat dan beranggapan bahwa tidak mungkin dilakukan orang yang memiliki pe­nyakit kuning, akhirnya kafir Quraisy menyadari kalau itu hanya isu dan fitnah untuk umat ­Islam.
Selain itu, ada juga nilai filosofis menggunakan kain ihram. Banyak nilai filosofi di balik perintah menggunakan kain ihram. Misalnya, terkait dengan kain ihram, ibaratnya kita diminta untuk mengingat mati yang nanti hanya sehelai kain putih yang melekat dalam diri dan akan dibawa ke liang lahat. Setelah kematian, kita akan menghadap ­Allah swt yang juga kita tidak akan membawa apa-apa, kecuali amal saleh. Iman dan amal inilah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah swt. 
Sebagaimana firman Allah swt, ”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” (QS Al-Hujurat: 13).
Kain ihram yang putih bersih juga mengisyaratkan bahwa manusia harus bersih dan suci jiwa. Sebagaimana manusia yang dilahirkan kemudian memulai kehidupan ini dengan putih bersih (fitrah). Firman Allah swt, ”Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS Asy-Syams: 9-10). 
Perintah kita untuk bersuci pun tidak hanya ketika menggunakan kain ihram. Sebelum berihram pun kita sudah disunahkan untuk mandi dan bersuci, sebagaimana diriwayatkan oleh Jabir ra. Ini artinya, kita harus bisa menjaga diri, tetap bersih dan suci dari hadas kecil maupun besar. Dengan bersih dan suci, kita akan sehat dan bugar.  
Pakaian ihram juga menunjukkan tidak adanya perbedaan dan kelas sosial. Karena pakaian sehari-hari pada umumnya menunjukkan perbedaan status sosial, ekonomi, dan profesi, yang bisa memberikan pengaruh psikologis kepada pemakainya. Karena secara sosiokultural, biasanya pakaian ini menjadi identitas yang bisa menggambarkan strata sosial di masyarakat. 
Kemudian nilai filosofis lainnya dari kain ihram ialah sebagai simbol persamaan dan solidaritas sosial antarsesama. Terutama ketika berhaji dan umrah. 
Dengan kain ihram, jemaah dilatih untuk memiliki semangat keseragaman, solida­ritas ketika meng­hadapi cuaca yang panasnya Mekah, dan melatih empati pada orang lain. Karena sebelum menggunakan kain ihram, orang akan merasa dirinya paling tinggi pang­katnya, paling berwibawa jabatannya, dan paling dihormati di masyarakatnya. 
Jadi kain ihram menyadarkan jemaah bahwa manusia sama, dan tidak ada apa-apanya di hadapan Allah swt.***
Tata Sukayat
Pembimbing Haji Plus 
dan Umrah Qiblat Tour 

Artikel ini telah diterbitkan di HU Pikiran Rakyat 17-03-2020